Tribun Kesehatan

Faktor Sosial Ekonomi Bisa Jadi Pemicu Seseorang Terkena Stroke

Ketidakmampuan mengakses transportasi yang aman ke rumah sakit dan membeli obat-obatan pun menjadi pemicu lainnya dan ini terjadi di banyak negara

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Eko Sutriyanto
Faktor Sosial Ekonomi Bisa Jadi Pemicu Seseorang Terkena Stroke
Medicine.net
Ilustrasi - Stroke 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ada beberapa faktor yang berpotensi mendorong seseorang terkena penyakit stroke, satu diantaranya faktor sosial ekonomi.

Direktur Kantor Kesehatan Global dan Disparitas Kesehatan di Institut Gangguaan Neurologis dan Stroke Nasional (NINDS), Richard Benson, MD, PhD, mengatakan bahwa faktor sosial dan ekonomi turut menjadi pendorong seseorang pada akhirnya memiliki penyakit stroke.

Karena mereka tidak hanya kesulitan memperoleh makanan sehat yang biasanya memiliki harga yang cukup mahal, namun juga membeli obat-obatan.

Dikutip dari laman www.niddk.nih.gov, Rabu (19/5/2021), seseorang yang mengkonsumsi 5 hingga 7 porsi buah dan sayuran per hari diyakini memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit stroke jika dibandingkan mereka yang jarang mengkonsumsinya.

Namun tidak semua orang bisa memperoleh buah-buahan dan sayuran secara mudah.

Baca juga: Diabetes Tidak Terkontrol Tidak Hanya Berpotensi Rusak Jantung Tapi Juga Menimbulkan Stroke

"Sayangnya, beberapa orang tidak punya akses untuk mendapatkan buah dan sayuran, mereka juga memiliki faktor sosial yang dapat mempengaruhi kemampuan dalam mengelola risiko stroke," kata Benson.

Selain itu, ketidakmampuan mereka dalam mengakses transportasi yang aman ke rumah sakit dan membeli obat-obatan pun menjadi pemicu lainnya, ini terjadi pada banyak negara di dunia.

"Penting bagi kami untuk mencoba memastikan bahwa orang-orang memiliki dukungan yang dapat membantu mereka dalam mengatasi faktor penentu sosial ini," jelas Benson.

Baca juga: Dosen Tetap Mengajar Meski Terbaring Sakit karena Stroke, Mahasiswa Kaget saat Lihat

Faktor-faktor ini tentunya dapat menjadi pertimbangan utama dalam penelitian keadilan kesehatan terkait bagaimana tenaga medis dapat mengatasi masalah ini dengan memberikan perawatan kesehatan yang berkualitas.

"Misalnya, beberapa rumah sakit sekarang membantu pasien agar bisa secara mudah mengakses dokter di rumah sakit dengan memberikan layanan transportasi," pungkas Benson.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas