Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Kesehatan
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kebiasaan ''Mager'' Bisa Picu Obesitas, Jantung, hingga Stroke, Kok Bisa? Ini Solusinya Menurut Ahli

Mager atau malas gerak membuat ketidakseimbangan asupan makanan yang dikonsumsi dengan kalori yang harus dikeluarkan.

Kebiasaan ''Mager'' Bisa Picu Obesitas, Jantung, hingga Stroke, Kok Bisa? Ini Solusinya Menurut Ahli
Freepik
ilustrasi mager atau bermalas-malasan 

TRIBUNNEWS.COM - Mager atau malas gerak tampaknya sudah menjadi gaya hidup sebagian orang. Mereka menamakan dirinya kaum rebahan.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Siloam Hospitals TB Simatupang dari Jakarta Selatan, dr. Christopher Andrian, M. Gizi, Sp.GK., menyebut itu sebagai sedentary lifestyle.

Ia menjelaskan, gaya hidup sedentari pada dasarnya adalah kebiasaan malas bergerak atau menetap pada suatu posisi dalam waktu lama. Minim beraktivitas secara fisik atau tubuh.

Sebagai contoh, aktivitas harian lebih sering duduk atau berbaring, misal menonton TV, bermain Gadget dan bekerja di depan komputer atau laptop.

Kemudian, pergi ke sekolah, kantor, atau belanja menggunakan kendaraan meskipun jaraknya dekat.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, gaya hidup ini menjadi penyebab utama kematian, penyakit dan kecacatan di dunia.

Baca juga: Selain Enak, Makan Tempe Punya Manfaat Kesehatan, Baik untuk Jantung

Oleh karenanya, dr Christopher Andrian menyarankan agar melawan rasa 'mager' dengan membiasakan diri melakukan aktivitas fisik, minimal 30 - 60 menit setiap hari.

"Malas bergerak dalam jangka waktu panjang dapat meningkatkan resiko Penyakit Tidak Menular atau PTM. Misalnya akan menimbulkan penyakit obesitas, Kolesterol tinggi, diabetes dan penyakit jantung bahkan stroke," tutur dr. Christopher Andrian, melalui edukasi secara langsung di akun Instagram milik Siloam Hospitals TB Simatupang, Selasa (25/05/2021).

Adapun istilah 'mager' bukan sesuatu yang asing lagi bagi masyarakat saat ini.

"Bahkan penggunaannya sangat umum ditemukan pada percakapan sehari-hari terutama bagi kaum rebahan (istilahnya)," ujar dokter yang akrab disapa Chris itu menambahkan.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Willem Jonata
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas