Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Ini Tips Menghindari Cidera dari Fisioterapis untuk Para Atlet

Mengecek kondisi tubuh atlet merupakan aktivitas seorang fisioterapis. Ia bisa meminimalisir cidera saat bertanding.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: cecep burdansyah
zoom-in Ini Tips Menghindari Cidera dari Fisioterapis untuk Para Atlet
TRIBUN JOGJA/MIFTAHUL HUDA
Lutfinanda Amary, Fisioterapis PSS Sleman sedang memeriksa atlet PSS Sleman 

Biasanya, pelatih sudah naksir banget kepada kemampuan si pemain. Ia minta supaya pemain tersebut segera dikontrak.

Ternyata setelah dicek, kondisinya rentan atau punya cedera tetapi belum pulih. Problem seperti itu sering terjadi.

Awal merintis karier sebagai fisioterapis, saya bingung ketika menghadapi permasalahan tersebut.

Paradigmanya, cara main pemain sesuai konsep tim, pelatih telanjur suka, tetapi data penunjang medis ternyata sekadar formalitas.

Kendati demikian, sepak bola Indonesia semakin maju. Kini, data medis jadi tolok ukur.

Sebut saja data cedera, organ-organ vital, serta tes darah dan urine lantaran sangat berkaitan dengan performa pemain saat berlatih maupun bermain.

Pemeriksaan medis selama pramusim benar-benar penting untuk mengecek kondisi pemain lama maupun pemain baru.

Rekomendasi Untuk Anda

Data-data mereka akan menjadi penunjang program dan strategi tim selama latihan maupun mengarungi kompetisi.

Bagaimana peran fisioterapis ketika ada pemain cedera di lapangan?

Ada paradigma yang harus diluruskan. Saat pertandingan, fisioterapis cuma bawa es dan semprotan painkiller.

Padahal, apa yang terlihat di lapangan sebenarnya cuma 15 persen dari tugas keseluruhan seorang fisioterapis di tim.

Ketika road to match, sebelum sampai menjelang pertandingan, peran fisioterapis sangat vital.

Kalau pas pertandingan, tugas fisioterapis lebih ke manajemen darurat cedera dari ujung kuku kaki sampai ujung kepala untuk antisipasi risiko.

Kalau bicara soal cedera dalam olahraga, apakah bisa diminimalisasi?

Sangat bisa. Contohnya sakit stroke. Stroke bukan penyakit yang muncul tiba-tiba, melainkan ada sesuatu yang memantik, semisal diabetes, hipertensi, atau kolesterol.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas