Tribun Kesehatan

Bisphenol A Pada Kemasan Plastik Berbahaya, Tarik Hak Nutrisi Anak hingga Ancam Ibu Hamil

Ketua AIMI Nia Umar mengatakan penggunaan Bisphenol A (BPA) pada kemasan plastik dapat menarik hak nutrisi yang diterima oleh anak.

Penulis: FX Ismanto
Editor: Anita K Wardhani
Bisphenol A Pada Kemasan Plastik Berbahaya, Tarik Hak Nutrisi Anak hingga Ancam Ibu Hamil
Dok. Shutterstock (By IU Liquid and water photo)
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM - Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan Koordinator Presidium Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) Nia Umar mengatakan penggunaan Bisphenol A (BPA) pada kemasan plastik dapat menarik hak nutrisi yang diterima oleh anak.

Tidak hanya anak-anak, menurutnya bahaya BPA ini juga mengancam kepada ibu hamil dan lingkungan.

“Bahaya BPA ini berdampak bagi tubuh ibu hamil dan menyusui. Bagi yang menyusui, risiko yang ditimbulkan adalah ASI yang diminum bayi akan mengandung BPA sehingga bisa jadi si bayi ini tidak mau lagi menyusui melalui payudara ibu mereka,” ucap Nia Umar saat Dialog Publik Virtual Mendesain Regulasi Bisphenol-A (BPA) yang Tepat, Rabu (13/10/2021).

Risiko merupakan dampak dari penggunaan BPA dan akan lebih berbahaya pada bayi yang menyusui lewat dot botol susu.

Baca juga: Ini Pendapat Pakar Polimer ITB Terkait Kandungan BPA dalam Galon Guna Ulang 

Baca juga: Arzeti Bilbina Harap BPOM Beri Label  Peringatan Konsumen pada Kemasan Plastik Mengandung BPA 

Bayi yang diberikan asupan secara artifisial ini dapat menelan BPA dosis ganda sehingga juga akan mempengaruhi tumbuh kembang mereka. 

Oleh sebab itu, Nia menjelaskan bahwa BPA ini telah menjadi problematis karena telah ada di berbagai aspek kehidupan.

“Pada ibu hamil, BPA ini akan mudah masuk ke dalam rantai makanan dan dapat ditemukan dalam urin, darah, tali pusat, dan ASI. Karenanya, janin dan bayi dapat terpapar BPA bahkan pada mereka yang tidak mengonsumsi botol yang terkontaminasi sekalipun,” sambungnya.

Ilustrasi bayi minum susu
Ilustrasi bayi minum susu (undark.org)

Oleh sebab itu, BPA dapat mengganggu kerja endokrin dan meniru esterogen.

Bahkan Laporan Program Toksikologi Nasional AS pada 2008 menyatakan keprihatinannya atas efek BPA kepada otak dan perilaku dan kelenjar prostat pada janin.

“Karena ini, bukan berarti ibu menyusui berhenti memberikan ASI kepada anak. ASI ini sangat penting bagi bayi dari pada memberikan susu formula lewat botol yang berpotensi dikonsumsinya kandungan BPA secara ganda,” terang Nia.
Oleh sebab itu, Nia mengimbau masyarakat harus berhati-hati dan memperhatikan kesehatan tubuh karena BPA ini telah ada diberbagai kemasan, mulai dari plastik, kaleng, dan galon. Dari tiga kemasan tersebut yang perlu diperhatikan adalah galon air minum.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas