Tribun Kesehatan

Penelitian, Satu Penderita TBC Bisa Tularkan 15 Orang di Sekitarnya, Waspadai TB Laten

Ketika bakteri masuk, jika daya tahan tubuh bagus, maka orang tersebut tidak akan sakit. Namun, itu bisa jadi TB laten.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Penelitian, Satu Penderita TBC Bisa Tularkan 15 Orang di Sekitarnya, Waspadai TB Laten
freepik
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tuberkolosis atau TBC adalah penyakit yang menular. Hal ini diungkapkan oleh dr Santi dari Medical Center Kompas Gramedia. 

Menurut ia, dari hasil penelitian, satu orang pengidap TBC bisa menularkan 10 sampai 15 orang yang ada di sekitarnya.

"Dan kalau tertular terus menjadi sakit tapi juga belum tentu sakit," paparnya dalam kanal YouTube Sonora FM dikutip Tribunnews, Sabtu (11/12/2021).

Ada satu indikasi orang yang terinfeksi bakteri mycobacterium tuberculosis, bisa menjadi TB laten. Ketika bakteri masuk, jika daya tahan tubuh bagus maka orang tersebut tidak akan sakit. 

Baca juga: Mengapa Pengobatan TBC Harus Dilakukan Enam Bulan Tanpa Henti? Dokter Beri Penjelasan

"Kalau daya tahan tubuh turun, bakteri masuk terlalu banyak dan ganas maka akan sakit TB. Di dalamnya ada bakteri, tapi di penjara. Bakteri dikelilingi sel daya tahan tubuh. Sehingga tidak menimbulkan penyakit," katanya lagi.

Namun saat daya tahan turun, bakteri yang dibungkus ini jadi aktif sehigga menyebabkan sakit TBC. Karenanya sangat penting menjaga daya tahan tubuh.

"Mudah mudahan setelah pandemi, tetap jaga kebiasaan baik. Tidur, makan dan istriahat cukup. Begitu juga kelola manajemen, sehingga TBC juga turun," katanya lagi.

Di sisi lain, dr Santi juga mengingatkan orang yang pengobatan TBC untuk berkomitmen menyelesaikan waktu yang ditentukan dokter.

Pasalnya, pasien yang berobat secara tidak teratur dapat membuat bakteri resisten alias kebal dengan obat-obatan sebelumnya.   

"Kalau menular ke orang lain kasian. Karena ketularan virus yang udah pinter. Begitu masuk kuman yang sakti, udah gak mempan obat ini," tegasnya. 

Oleh karenanya dr Santi kerap memperingati dengan tegas pasien TBC yang ingin berobat untuk konsisten selama enam bulan ke depan. Tidak boleh berhenti mengonsumsi obat selama enam bulan tersebut.

"Maka mengantisipasi ini pemerintah membuat kebijakan membuat pengawas minum obat. Biasanya dipilih orang yang dihargai pasien yang tugasnya memastikan pasien minum obat dengan cara baik," pungkasnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas