Tribun Kesehatan

Cegah Aksi Peretas, Keamanan Data Bidang Kesehatan Harus Diperkuat

Kejahatan siber kini semakin mengkhawatirkan, karenannya untuk melindungi data khususnya di bidang kesehatan perlu ada penguatan keamanan siber.

Editor: Anita K Wardhani
zoom-in Cegah Aksi Peretas, Keamanan Data Bidang Kesehatan Harus Diperkuat
SOPHOS
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kejahatan siber kini semakin mengkhawatirkan.

Sudah banyak para peretas melakukan aksinya di dunia maya menjebol situs-situs penting bahkan hingga halaman resmi milik pemerintah.

Karena itu untuk melindungi data khususnya di bidang kesehatan perlu ada penguatan keamanan siber.

"Di Amerika, kejahatan siber menyasar data kesehatan. Karena itu, sebelum terjadi di Indonesia, keamanan data kesehatan atau cybersecurity-nya harus diperkuat," ujar Rektor Institut Kesehatan Indonesia Dr Nurlis Effendi, SH, MH dalam pernyataannya yang diterima Tribun, Minggu(10/4/2022).

Baca juga: Komisi I DPR Bicara Bahaya Ruang Siber Disalahgunakan untuk Hoaks hingga Konten Radikalisme

Baca juga: Penting, Penilaian Teknologi Kesehatan Untuk Pelayanan Kesehatan JKN Yang Berkualitas

Nurlis menjelaskan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun lalu telah meluncurkan enam pilar transformasi pada sektor kesehatan di Indonesia.

Transformasi tersebut rencananya akan dilakukan mulai dari tahun 2021 hingga 2024 mendatang.

Enam pilar tersebut di antaranya adalah transformasi layanan primer, transformasi layanan sekunder (rujukan atau rumah sakit), transformasi sistem layanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi sumber daya manusia kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan.

Ataa hal itu Nurlis menekankan pada regulasi kesehatan karena masih banyak aturan dan undang-undang yang belum mendukung perkembangan transformasi teknologi kesehatan di Indonesia.

Selain transformasi regulasi, Nurlis juga menekankan pada transformasi teknologi data kesehatan. Menurutnya transformasi data kesehatan perlu memanfaatkan teknologi siber sebagai transformasi digital teknologi kesehatan.

Sementara, Pakar Spesialis Emergency, Ahli Gigitan Ular Berbisa, Dr. Tri Maharani, M. Si. Sp.EM. mengungkap pentingnya transformasi kedaruratan saat bencana.

Misalnya, menurut Maharani, makanan untuk korban bencana jangan hanya mie instan.

"Kita perlu makanan bergizi lengkap untuk korban bancana agar penyakit mudah menular dan berkembang di lingkungan yang sedang dilanda bencana," ujar Maharani.

Peneliti BRIN Dr. drh. Didik Budijanto, M. Kes. menyebut transformasi dari sistem teknologi kesehatan harus berbasis data dan pelayanan.

"Transformasi 6 pilar kesehatan harus fokus dari teknologi digital di kesehatan akan kami geser dari yang sifatnya pelaporan, menjadi pelayanan," ujar Didik.(Willy Widianto)

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas