Tribun Kesehatan

Penyakit Cacar Monyet

WHO Berencana Ganti Nama Cacar Monyet untuk Hindari Stigmatisasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berencana mengganti nama monkeypox atau cacar monyet untuk menghindari stigmatisasi.

Penulis: Rica Agustina
Editor: Arif Fajar Nasucha
zoom-in WHO Berencana Ganti Nama Cacar Monyet untuk Hindari Stigmatisasi
UKHSA
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) itu menunjukkan lesi kulit yang khas dari infeksi cacar monyet (Monkeypox). - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berencana mengganti nama monkeypox atau cacar monyet untuk menghindari stigmatisasi. 

TRIBUNNEWS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sedang mengadakan forum terbuka untuk mengganti nama penyakit monkeypox atau cacar monyet, AP News melaporkan.

Rencana penggantian itu diumumkan setelah beberapa kritikus menyuarakan kekhawatiran bahwa cacar monyet bisa menghina atau berkonotasi rasis, dan pertemuan para ilmuwan minggu ini.

WHO akan mengganti nama-nama penyakit untuk menghindari menyebabkan pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional, atau etnis, dan meminimalkan dampak negatif pada perdagangan, perjalanan, pariwisata atau kesejahteraan hewan.

WHO sebelumnya telah mengganti nama dua keluarga, atau clades, dari virus, menggunakan angka Romawi alih-alih wilayah geografis, untuk menghindari stigmatisasi.

Versi penyakit yang sebelumnya dikenal sebagai Cekungan Kongo sekarang akan dikenal sebagai Clade satu atau I dan clade Afrika Barat akan dikenal sebagai Clade dua atau II.

Banyak penyakit lain, termasuk ensefalitis Jepang, virus Marburg, influenza Spanyol, dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah diberi nama berdasarkan wilayah geografis tempat penyakit itu pertama kali muncul atau diidentifikasi.

Baca juga: Legislator PDIP: Cacar Monyet Menyebar Luas Banyak Negara, Indonesia Harus Meningkatkan Kewaspadaan

WHO belum secara terbuka menyarankan untuk mengubah nama-nama itu.

Adapun untuk cacar monyet, WHO mengatakan pihaknya membuka jalan bagi publik untuk menyarankan nama baru penyakit itu, tetapi tidak mengatakan kapan nama baru akan diumumkan.

Cacar monyet pertama kali dinamai pada tahun 1958 ketika monyet penelitian di Denmark diamati memiliki penyakit "seperti cacar", meskipun mereka tidak dianggap sebagai reservoir hewan.

Sampai saat ini, ada lebih dari 31.000 kasus cacar monyet yang diidentifikasi secara global sejak Mei, dengan mayoritas di luar Afrika.

Cacar monyet telah menjadi endemik di beberapa bagian Afrika tengah dan barat selama beberapa dekade dan tidak diketahui memicu wabah besar di luar benua itu hingga Mei.

WHO menyatakan penyebaran global cacar monyet sebagai keadaan darurat internasional pada bulan Juli.

Amerika Serikat (AS) menyatakan sendiri cacar monyet sebagai keadaan darurat nasional awal bulan ini.

Di luar Afrika, 98 persen kasus terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria.

Dengan hanya pasokan vaksin global yang terbatas, pihak berwenang berlomba untuk menghentikan cacar monyet sebelum menjadi penyakit baru.

Baca juga artikel lain terkait Penyakit Cacar Monyet

(Tribunnews.com/Rica Agustina)

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas