Tribun Kesehatan

Hipertensi Tak Bisa Disembuhkan, Apa yang Harus Dilakukan?

Pasien hipertensi harus terkontrol sebagai upaya menghindari komplikasi, misalnya kerusakan otak seperti stroke.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Erik S
zoom-in Hipertensi Tak Bisa Disembuhkan, Apa yang Harus Dilakukan?
Tribun Medan
(Ilustrasi hipertensi)Pasien hipertensi harus terkontrol sebagai upaya menghindari komplikasi, misalnya kerusakan otak seperti stroke. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Hipertensi merupakan penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan. 

Pasien hipertensi harus terkontrol sebagai upaya menghindari komplikasi, misalnya kerusakan otak seperti stroke.

Baca juga: Hipertensi Ditemukan pada 70 Persen Pasien Stroke, Dokter: Kendalikan Tekanan Darah

Dokter Spesialis Saraf RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dr Eka Harmeiwaty mengungkapkan, langkah paling awal mencegah stroke adalah mengendalikan tekanan darah

Selain untuk pencegahan primer stroke, penurunan tekanan darah juga penting mencegah berulangnya stroke

"Penurunan tekanan sistolik 10 mmHg akan menurunkan risiko stroke hingga 27 persen dan besarnya penurunan tekanan darah secara linear akan mengurangi risiko stroke berulang,” tutur dr. Eka.

Terkait pengobatan hipertensi mencegah stroke, selain pencegahan primer, pencegahan sekunder juga tidak kalah penting. 

Penelitian acak terkendali (Randomized Controlled Trial / RCT) menunjukkan bahwa pengobatan dengan obat anti-hipertensi dapat menurunkan risiko Stroke hingga 32 persen. 

Baca juga: Udara Dingin dan Polusi Udara Bisa Jadi Penyebab Hipertensi, Simak Penjelasan Dokter

Beberapa golongan obat dimasukkan sebagai lini pertama yaitu golongan Calcium-channel blockers (CCB), Anti Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) atau Angiotensinogen Receptor Blocker (ARB) dan beta blocker.

Dokter Eka menjelaskan, selain efektivitas dan keamanan obat, saat memilih obat juga perlu mempertimbangkan kestabilan dosis obat dalam darah yang dapat mempertahankan tekanan darah dalam 24 jam, sehingga frekuensi pemberian obat bisa dikurangi.

Golongan CCB bekerja dengan mengurangi kekakuan dinding pembuluh darah dan menyebabkan pembuluh darah arteri melebar.

Baca juga: Risiko Hipertensi Meningkat Tajam pada Usia 45 tahun, Ini Diet yang Dianjurkan Bagi Penderita

"Golongan CCB adalah obat yang paling banyak digunakan di seluruh dunia karena efektivitas dan keamanannya," ujarnya.

Salah satu obat golongan CCB adalah Nifedipine. Nifedipine konvensional mempunyai waktu paruh yang pendek sehingga harus diberikan 3 kali sehari. 

Namun, dengan adanya inovasi teknologi GITS (Gastro-Intestinal Therapeutic System), Nifedipine dapat diminum 1 kali sehari saja untuk menurunkan tekanan darah

“Penelitian menunjukkan, pemberian Nifedipine GITS dapat menurunkan tekanan darah lebih besar dibandingkan jenis CCB lainnya. Frekuensi pemberian obat hanya 1 kali akan meningkatkan ketaatan pasien terhadap pengobatan hipertensi sehingga target penurunan tekanan darah dapat dicapai,” tambahnya.

Baca juga: Seorang Ibu Muda Meninggal saat Balap Karung, Ini Faktor Risiko Hipertensi Pasca Melahirkan

Dr Gunawan Purdianto, Medical Affairs Divisi Pharmaceuticals Bayer Indonesia mengatakan, Bayer berkomitmen terhadap kesehatan pasien dengan terus berupaya menyediakan akses yang luas bagi pengobatan hipertensi bagi seluruh masyarakat Indonesia, salah satunya dengan ketersediaan obat dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan regular.

“Selain itu, Bayer juga senantiasa meningkatkan kesadaran pasien terkait Hipertensi di Indonesia dengan terus melakukan edukasi kepada masyarakat luas, salah satunya lewat media massa. Sehingga ke depannya, kami berharap untuk terus dapat berkontribusi agar pasien Hipertensi selalu mendapatkan pengobatan yang lebih tepat dan lebih baik,” ujar Dr Gunawan.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas