Tribun Kesehatan

Jangan Lakukan Scrubbing Setiap Hari, Ini Dampak yang Ditimbulkan pada Kulit

Scrubbing atau eksfoliasi secara fisik sifatnya mirip diamplas sehingga disarankan untuk dilakukan dua minggu sekali

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Jangan Lakukan Scrubbing Setiap Hari, Ini Dampak yang Ditimbulkan pada Kulit
Shutterstock
Ilustrasi kulit - Scrubbing kerap dilakukan untuk mempercantik kulit. Scrubbing merupakan proses menggosok kulit dengan butiran halus scrub guna mengangkat sel kulit mati 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Scrubbing kerap dilakukan untuk mempercantik kulit. Scrubbing merupakan proses menggosok kulit dengan butiran halus scrub guna mengangkat sel kulit mati. 

Melakukan scrubbing secara teratur dapat membuat kulit menjadi halus dan lembut. Selain itu, scrubbing juga dapat mengangkat sel kulit mati dan akan merangsang pertumbuhan sel kulit baru. 

Sehingga kulit dapat menjadi lebih berkilauan. Namun, sebenarnya scrubbing tidak disarankan dilakukan sesering mungkin, apa lagi setiap hari. Hal ini diungkapkan oleh Dermatologist dr Danar Wicaksono.

"Sebenarnya hanya boleh dilakukan maksimal dua minggu sekali. Di lain itu bisa gunakan chemical eksfoliasi misalnya menggunakan bahan Acid tadi. Entah AHA, PHA," ungkapnya saat ditemui Tribunnews di Jakarta, Senin (3/10/2022). 

Baca juga: Cara Mudah Cegah Kulit Belang pada Tubuh

Chemical eksfoliasi juga memiliki kemampuan selain mengeksfoliasi kulit pada bagian atas. Lalu merangsang kulit dengan memproduksi kolagen. 

Ia mengatakan jika scrubbing atau eksfoliasi secara fisik sifatnya mirip diamplas sehingga disarankan untuk dilakukan dua minggu sekali. 

Untuk dampak yang ditimbulkan, mungkin tidak akan disadari. Tapi, penggunaan scrubbing terlalu sering dapat menyebabkan over eksfoliasi. 

"Nah itu bisa dibayangin. Kulit sebenarnya tumbuh maksimal setelah dua minggu lagi.
Bisa dibayangkan belum dua minggu sudah dieksfoliasi lagi. Kulit itu belum ada dalam kondisi ideal atau optimal," papar Danar. 

Akibatnya, barrier kulit menjadi semakin tipis. Kulit tidak memiliki tamengnya. Sehingga bakteri, virus, debu bisa masuk. 

"Jadi, intinya tidak terlalu bagus," pungkasnya. 

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas