Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Gangguan Mental yang Dihadapi Banyak Anak Muda di Korea Selatan

Dari total 13.205 kematian akibat bunuh diri pada 2021, sekitar 5.258 diantaranya memiliki riwayat perawatan kesehatan mental.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Willem Jonata
zoom-in Gangguan Mental yang Dihadapi Banyak Anak Muda di Korea Selatan
promisesbehavioralhealth.com
Ilustrasi. 

Pada Agustus lalu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) Korea merekomendasikan dua perusahaan asuransi lokal untuk mengizinkan pasien yang dirawat karena gangguan depresi untuk membeli program asuransi mereka.

Profesor Park menunjukkan bahwa kurangnya informasi yang dapat diakses publik tentang pengobatan, merupakan alasan dibalik sikap ragu-ragunya masyarakat untuk mencari bantuan psikologis.

"Para ahli (di bidang kesehatan mental) harus mendekati masyarakat dan melakukan upaya untuk menyebarkan informasi yang relevan, dari sudut pandang publik," kata Profesor Park.

'Awareness, Attitude and Impact of Perceived Depression in the Workplace in Korea' oleh Korean Neuropsychiatric Association menunjukkan bahwa terdapat persepsi negatif terhadap perawatan penyakit mental di kalangan pekerja di Korsel.

Hanya 31 persen dari mereka yang didiagnosis depresi 'mau mengambil cuti', sementara 34 persen diantara mereka tidak memberitahu atasan atau rekan kerja mereka terkait penyakit yang mereka derita.

Para peneliti pun bertanya kepada responden yang terdiri dari 1.000 orang Korea berusia 16 hingga 64 tahun yang bekerja, terkait 'apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui rekan mereka menderita depresi'.

Jawaban utama mereka adalah bahwa 30,2 persen diantara mereka akan menghindari percakapan semacam itu.

Rekomendasi Untuk Anda

Ini menunjukkan bahwa berbicara tentang penyakit mental adalah masalah yang sensitif bagi kedua belah pihak.

"Untuk mencegah penurunan produktivitas akibat kehadiran di tempat kerja, harus ada program yang memadai untuk mendeteksi depresi pada tahap awal, bersamaan dengan sistem yang tepat untuk meminta bantuan dan mendukung pasien," kata para peneliti.

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas