Tribun Kesehatan

Masalah Kesehatan Ini Mengintai saat Ibu Tidak Bahagia Jalani Proses Kehamilan

Dokter spesialis kandungan dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, Sp.OG uraikan masalah kesehatan yang mengintai para ibu hamil.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Endra Kurniawan
zoom-in Masalah Kesehatan Ini Mengintai saat Ibu Tidak Bahagia Jalani Proses Kehamilan
Tribunnews.com/Istimewa
Ilustrasi hamil - Dokter spesialis kandungan dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, Sp.OG uraikan masalah kesehatan yang mengintai para ibu hamil. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ada banyak masalah kesehatan yang bisa mengintai jika ibu tidak bahagia selama menjalani kehamilannya.

Seperti mengganggu tumbuh kembang anak, bahkan dapat membahayakan dirinya sendiri sekaligus sang anak.

Menurut dokter spesialis kandungan dr. Ardiansjah Dara Sjahruddin, Sp.OG., tak bisa dipungkiri selama masa kehamilan, banyak perubahan yang terjadi pada wanita, mulai dari fisik hingga psikis, serta yang tidak tampak, yaitu perubahan hormonal.

“Makanya enggak heran trimester pertama sekitar 75-80 persen ibu hamil pasti mual. Nah, yang 20 persen enggak mual atau istilahnya hamil kebo,” ujar dr. Dara pada ulang tahun Teman Bumil didukung Folamil dan Herba ASIMOR beberapa waktu lalu.

38,4 Persen Stres saat Hamil

Baca juga: Cara Pengobatan AIDS, Bisa untuk Mencegah Penularan HIV dari Ibu Hamil ke Janin

Ketiga hormon tersebut sangat berpengaruh terhadap perubahan psikis ibu hamil, sehingga jadi lebih sedih, menangis, dan gampang marah-marah.

Survei yang dilakukan oleh Teman Bumil terhadap 1.504 ibu hamil, 64,6 persen mengaku lebih mellow dan sering sedih, sementara 38,4 persen mengaku jadi lebih stres selama hamil.
Selain masalah hormonal, ada beberapa faktor eksternal yang menjadi pemicu ibu hamil tidak bahagia atau stres.

Misalnya kondisi finansial yang belum stabil (44,3 persen) berada di urutan pertama.

Kemudian, disusul dengan masalah kehamilan yang cukup mengganggu (35,8 persen), belum atau sulit menyiapkan biaya persalinan (23,9 persen), masih harus bekerja atau mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian (21,5 persen), dan menjalani kehamilan sambil mengurus anak (20,7 persen).

Meski kebanyakan terjadi di trimester pertama, kondisi psikis yang naik turun juga bisa berlanjut sampai trimester kedua, bahkan trimester ketiga.

Hal yang paling mengganggu di trimester kedua, ujar dr. Dara, biasanya terkait dengan perubahan bentuk fisik. Sementara di trimester ketiga, ibu hamil kerap stres terkait proses persalinan yang akan ditempuh.

Walau hormon berperan besar, kesedihan pada ibu hamil tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Dampaknya pada Janin

Baca juga: Ibu Hamil Wajib Tahu, Perlengkapan yang Harus Dibeli selama Masa Kehamilan hingga Lahiran

“Dampak secara tidak langsung itu ada, ya. Contohnya, ibu-ibu yang bersedih berkepanjangan berpotensi mengalami persalinan prematur. Bisa juga, anaknya kecil. Kita istilahkan BBLR (bayi berat lahir rendah),” ungkap dr. Dara.

Saat para ibu hamil sedih dan banyak pikiran, mereka bisa jadi malas makan atau makan tidak teratur. Akibatnya, janin menjadi kekurangan nutrisi lalu mengalami BBLR.

Ada pula yang sampai tidak menjaga kebersihan diri, yang berisiko tubuh terpapar banyak bakteri. Bakteri pun bisa masuk dari vagina ke dalam rahim, lalu menginfeksi selaput ketuban, yang memperbesar potensi mengalami ketuban pecah dini dan persalinan prematur.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas