Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Ketua IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebihan pada Anak

Salah satu kekhawatiran yang muncul terkait penggunaan layar gadget pada anak usia dini adalah dalam perkembangan kognitif.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Ketua IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebihan pada Anak
freepik
Ilustrasi anak bermain gadget 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso SpA(K) ungkap bahaya saat anak screen time berlebihan.

Screen time adalah adalah waktu yang dihabiskan oleh seorang anak untuk menggunakan perangkat elektronik, seperti ponsel, tablet, komputer, maupun televisi.

"Jadi anak kita sejak dini itu sudah terpapar dengan screen time. Meski ada dampak positifnya, tetapi dampak negatifnya pun juga ada," ungkapnya pada media briefing virtual, Kamis (31/8/2023).

Salah satu kekhawatiran yang muncul terkait penggunaan layar pada anak usia dini adalah dalam perkembangan kognitif.

Penggunaan layar belebihan dikaitkan dengan daya tahan perhatian.

"Ada gangguan perhatian di situ, ada kerusakan memori, penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah pada anak-anak," papar dr Piprim lagi.

Baca juga: Screen Time yang Berlebihan pada Anak Bisa Picu Obesitas

Rekomendasi Untuk Anda

Karakter interaktif dan dinamis dari layar dapat menghambat perkembangan kemampuan kongitif yang biasanya diperoleh melalui dunia nyata.

"Anak-anak belum bisa membedakan antara nyata dengan virtual. Kemudian juga selain itu paparan yang berkepanjangan pada layar bisa mengganggu pola tidur anak-anak," kata dr Piprim menambahkan.

Ketika anak susah tidur tentu akan berdampak buruk pada fungsi kognitif secara keseluruhan.

Selain itu, screentime yang terlalu berlebihan juga dapat menghambat perkembangan sosial dan emosional pada anak.

"Ini anak-anak asyik sendiri, jadi punya dunia sendiri, keterampilan untuk empati ini juga bisa terganggu. Dengan segala macam dammpaknya, belum lagi telat ngomong," kata dr Piprim lagi.

"Ini banyak anak-anak dua tahun dilaporkan telat bicara. Tapi ternyata setelah puasa gawai sebulan, ternyata perkembangan cukup bagus," tutupnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas