Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Kapan Anak Dikatakan Anemia? Berikut Penjelasan Dokter

Anemia defisiensi besi sering kali dianggap sepele. Padahal dampaknya bisa menentukan masa depan seorang anak.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Kapan Anak Dikatakan Anemia? Berikut Penjelasan Dokter
Tribunnews.com/ Rina Ayu
ANEMIA - Berikut ini anak yang berisiko mengalami kekurangan zat besi sehingga memicu anemia. Mulai dari prematur hingga terlalu banyak minum susu tanpa fortifikasi atau gizi tidak seimbang. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM,JOGJAKARTA - Kapan anak dikatakan anemia? Berikut penjelasan 
dokter spesialis anak, dr. Devie Kristiani Sp.A.

Anemia merupakan penyakit dengan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah yang sehat, atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik.

Anemia defisiensi besi sering kali dianggap sepele. Padahal dampaknya bisa menentukan masa depan seorang anak.

Baca juga: Menteri PPPA Minta Para Orang Tua Memperhatikan Pemenuhan Gizi Anak untuk Cegah Anemia

Secara fisik, anak-anak yang mengalami anemia sulit dideteksi.

Namun jika ada menemui anak-anak letih, lesu, lemah itu bisa jadi tanda mengarah anemia.

Selanjutnya ada pertumbuhan anak yang melambat lantaran pembentukan otot anak dipengaruhi oleh zat besi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kalau melihat anak sering tidur, lemas dan lambat jika merespons sesuatu itu curiga bisa anemia," kata dia dalam sesi talkshow 71 tahun SGM Menutrisi Indonesia di Yogyakarta, Rabu (27/8/2025).

Hal lainnya adalah telapak tangan anak pucat. Sayangnya, jika melihat telapak tangan anak pucat maka itu kondisi anemia tahap lanjut.

Lebih lanjut Devie menjelaskan, anemia pada anak bisa ditegakkan dengan skrining anemia.

"Seseorang anak dikatakan anemia jika hemoglobin atau HB-nya menyentuh angka 11," tutur dr Devie.

Dampak Anemia

Kondisi akibat kekurangan zat besi ini banyak dialami oleh anak Indonesia. 

Anemia dapat mempengaruhi perkembangan kognitif dan kemampuan berpikir anak
 
Zat besi berperan dalam pembentukan neurotransmitter penting di otak yang memengaruhi konsentrasi, daya ingat, dan semangat belajar.

Anak yang berisiko kekurangan zat besi juga memiliki kemampuan psikomotor yang lebih rendah sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajar anak di sekolah. 

Pencegahan sejak dini mulai dari kehamilan, pola makan kaya zat besi dan vitamin C, hingga pemeriksaan berkala melalui deteksi dini dengan alat skrining dan monitoring asupan zat besi adalah investasi terbaik. 

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas