Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Tak Hanya Obat, Pola Makan Tentukan Keberhasilan Terapi Anemia pada Anak

Anemia defisiensi besi (ADB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami anak-anak Indonesia. 

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Tak Hanya Obat, Pola Makan Tentukan Keberhasilan Terapi Anemia pada Anak
Tribunnews.com/ Rina Ayu
ANEMIA - Berikut ini anak yang berisiko mengalami kekurangan zat besi sehingga memicu anemia. Mulai dari prematur hingga terlalu banyak minum susu tanpa fortifikasi atau gizi tidak seimbang. 

Karena itu, pemberian suplemen zat besi sebaiknya dilakukan 30–45 menit sebelum makan atau dua jam setelah makan, dan tidak bersamaan dengan konsumsi susu.

Jenis Suplemen Zat Besi

Di pasaran, tersedia berbagai sediaan zat besi dengan komposisi yang berbeda. 

Beberapa di antaranya adalah ferofumarat, ferosulfat, feroglukonas, hingga iron polimaltose kompleks.

Ferosulfat merupakan bentuk yang paling banyak tersedia di apotek dan puskesmas, dengan kandungan 300 mg yang setara dengan 60 mg besi elemental. 

Bioavailabilitas setiap jenis zat besi berbeda, dan biasanya semakin tinggi kualitas penyerapannya, harga produk juga lebih mahal.

Kebutuhan Zat Besi pada Anak

Pada tahun pertama kehidupan, bayi membutuhkan sekitar 270–280 mg zat besi untuk menunjang pertumbuhan. 

Angka ini setara dengan kebutuhan rata-rata harian sekitar 0,8 mg zat besi.

Rekomendasi Untuk Anda

Pertanyaan pentingnya, apakah kebutuhan ini bisa tercukupi hanya dari air susu ibu (ASI), susu murni, atau susu formula? 

Menurut perhitungan, kandungan zat besi dalam susu murni hanya sekitar 0,8 mg per 1000 cc dengan tingkat penyerapan 10 persen. 

Artinya, susu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak, sehingga suplementasi tetap diperlukan.

Terapi ADB tidak bisa berhenti pada pemberian obat semata.

Orang tua perlu memahami pentingnya kepatuhan terapi, mengatur pola makan anak, dan memastikan anak mendapat asupan bergizi seimbang.

Dengan pengelolaan yang tepat, ADB dapat diatasi sehingga anak tidak kehilangan potensi tumbuh kembangnya. 

Kesadaran keluarga dalam mendukung proses terapi menjadi kunci agar anak-anak Indonesia tumbuh lebih sehat dan cerdas.

 

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas