Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Saran Dokter Onkologi untuk Penanganan Kasus Kanker di Indonesia yang Terus Meningkat

Kemenkes memperkirakan jumlah kasus kanker diprediksi meningkat lebih dari 70 persen pada 2050, jika tidak ada penguatan pencegahan dan deteksi dini.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Saran Dokter Onkologi untuk Penanganan Kasus Kanker di Indonesia yang Terus Meningkat
Tribunnews.com/Rina Ayu
KASUS KANKER DI INDONESIA - Kegiatan konferensi pers Strategi Ampuh Melawan Kanker: Membangun Sinergi Antara Tenaga Kesehatan dan Stakeholders yang digelar ROICAM di Jakarta pada Sabtu (27/9/2025). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI)  memperkirakan jumlah kasus kanker diprediksi meningkat lebih dari 70 persen pada 2050, jika tidak ada penguatan pencegahan dan deteksi dini.

Data Kementerian Kesehatan RI dan Global Cancer Observatory (Globocan) menunjukkan tren mengkhawatirkan.

Baca juga: Pakar Onkologi Tiongkok Ungkap Rahasia Pasien Kanker Bisa Punya Kualitas Hidup yang Baik

Tahun 2022 terakhir tercatat 408.661 kasus baru dengan 242.099 kematian di Indonesia.

Diproyeksikan terjadi peningkatan 63 persen kasus baru pada periode 2025–2040 bila tidak ada intervensi signifikan.

Diantaranya Rencana Kanker Nasional 2024–2034.

Strategi ini menunjukkan komitmen dan Langkah pemerintah dalam menghadapi tantangan pengendalian kanker.

Rekomendasi Untuk Anda

Pendekatan yang diusung mencakup promotif, preventif, kuratif, hingga paliatif, serta menekankan integrasi riset dan tata kelola sistem kesehatan.

Hal ini sejalan dengan rekomendasi WHO, sekaligus menegaskan semakin kuatnya political will dalam menanggulangi salah satu penyakit katastropik ini.

Tantangan Pelayanan Kanker di Indonesia

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi dan onkologi medik Prof. dr. Nuzirwan Acang menuturkan, ada ketimpangan layanan di daerah-daerah.

Hal itu disampaikan dia dalam kegiatan konferensi pers Strategi Ampuh Melawan Kanker: Membangun Sinergi Antara Tenaga Kesehatan dan Stakeholders yang digelar ROICAM di Jakarta pada Sabtu (27/9/2025).

"Misalnya keterlambatan diagnosis akibat fasilitas pelayanan dan akses yang belum merata yang menyebabkan tingginya penemuan kanker stadium lanjut pada tahap awal diagnosis," tutur dia.

Faktor lain adalah kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker, pembiayaan kanker yang tergolong berbiaya besar.

Belum lagi jumlah dan distribusi tenaga kesehatan yang bergerak di bidang onkologi seperti Konsultan Hematologi Onkologi Medik (KHOM) masih terbatas pada 188 dokter per September 2025, dengan prediksi penambahan 150–250 orang dalam 5 tahun ke depan.

Semua kendala ini berpotensi memperlebar jarak antara strategi dan realisasi di lapangan.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas