Beda Osteoporosis pada Anak dengan Dewasa, IDAI Jelaskan Penyebab dan Cara Deteksinya
Ikatan Dokter Anak Indonesia jelaskan perihal osteoporosis yang bisa menyerang anak-anak. Mulai dari gejala hingga cara mencegahnya.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Endra Kurniawan
Begitu juga jika anak mengalami dua kali patah tulang panjang (seperti di lengan atau tungkai) pada usia di bawah 10 tahun, atau tiga kali patah tulang panjang sebelum usia 19 tahun, dan hasil BMD menunjukkan Z-score di bawah -2.
“Jadi, berbeda sekali. Kalau orang dewasa cuma berdasarkan BMD, kalau anak harus dilihat juga ada tidaknya fraktur di tulang belakang atau tulang panjang,” ujarnya.
Baca juga: 75 Persen Lansia di Indonesia Berisiko Osteoporosis, Pakar Ingatkan Jaga Tulang Sejak Dini
Dua Jenis Osteoporosis Anak: Primer dan Sekunder
dr. Frieda membagi osteoporosis anak menjadi dua jenis besar, yaitu primer dan sekunder.
Osteoporosis primer biasanya disebabkan oleh kelainan genetik yang membuat tulang rapuh sejak lahir.
Kondisi paling umum disebut osteogenesis imperfecta (OI), yaitu gangguan pembentukan kolagen yang menyebabkan tulang mudah patah bahkan tanpa benturan.
Yang lebih sering ditemukan kini adalah osteoporosis sekunder, yaitu kerapuhan tulang yang muncul akibat penyakit lain atau efek samping obat tertentu.
Seperti penggunaan steroid jangka panjang, kelainan ginjal kronis, atau penyakit autoimun seperti lupus.
“Yang primer itu bawaan dari lahir, disebabkan kelainan genetik. Tapi yang sekunder makin lama makin banyak, karena penyakit kronik pada anak juga makin meningkat,” terang dr. Frieda.
Tulang Anak Bisa Patah Spontan
Pada anak dengan osteogenesis imperfecta, tulang bisa patah bahkan tanpa sebab yang jelas. Kadang hanya karena aktivitas ringan seperti duduk, berdiri, atau bahkan di dalam kandungan.
Dr. Frieda menceritakan, ia pernah menangani kasus bayi yang sudah mengalami patah tulang saat masih dalam rahim. Hal ini diketahui melalui pemeriksaan USG sebelum lahir.
“Bahkan, waktu di dalam kandungan aja bisa patah spontan,” katanya.
Selain tulang yang bengkok dan mudah patah, anak dengan kelainan ini juga sering memiliki bentuk kepala yang lebih besar, gigi rapuh, dan warna putih mata (sklera) yang agak kebiruan.
Baca juga: Konsumsi Tinggi Protein Bisa Berujung Osteoporosis? Begini Kata Dokter
Mengapa Kasusnya Meningkat?
Perubahan gaya hidup modern turut berperan dalam meningkatnya risiko osteoporosis pada anak.
Kurangnya aktivitas fisik, minimnya paparan sinar matahari, serta pola makan yang rendah kalsium dan vitamin D membuat tulang anak tidak tumbuh optimal.
Banyak anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, terpaku pada gawai, dan jarang berolahraga.
Baca tanpa iklan