Dapur Sekolah vs Dapur Terpusat, Mana yang Lebih Aman untuk MBG? Ini Kata Pakar
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah muncul berbagai pertanyaan soal keamanan dapurnya.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Ketergantungan pada sistem logistik juga memperbesar potensi kegagalan jika terjadi gangguan teknis atau cuaca ekstrem.
Untuk Indonesia yang luas dan beragam, Dicky menilai pendekatan hybrid atau gabungan menjadi solusi paling realistis.
Menurutnya, dapur terpusat cocok untuk wilayah perkotaan yang memiliki infrastruktur pendinginan memadai, sementara dapur sekolah lebih efektif di komunitas kecil atau daerah mudah diakses.
Kunci suksesnya, kata dia, ada pada standar operasional, validasi proses, serta sistem distribusi aman di kedua model tersebut.
Selain itu, ia mendorong pemerintah melakukan audit nasional terhadap dapur MBG, memastikan semua fasilitas memiliki sertifikasi layak hygiene dan sanitasi.
Langkah lain yang harus dilakukan segera, lanjutnya, meliputi penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), Standard Operating Procedure (SOP) time-temperature, dan pembentukan sistem surveilans insiden pangan agar respon terhadap potensi keracunan bisa lebih cepat.
Bagi Dicky, keberhasilan program makan bergizi tidak hanya bergantung pada anggaran besar, tapi pada keseriusan membangun sistem yang aman.
Tanpa pengawasan, pelatihan, dan pengendalian kualitas yang berkelanjutan, program sebaik apa pun akan tetap berisiko.
“Ini bukan soal dapur mana yang lebih bagus, tapi seberapa serius kita menjaga makanan anak-anak tetap aman,” tutupnya.
Baca tanpa iklan