Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Dampak Banjir Sumatera: Stres, ISPA, Diare hingga Leptospirosis Mengintai Penyintas

Seusai kejadian bencana selalu memiliki pola risiko kesehatan tertentu, terutama kepada kelompok sangat rentan seperti anak-anak serta kaum perempuan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
zoom-in Dampak Banjir Sumatera: Stres, ISPA, Diare hingga Leptospirosis Mengintai Penyintas
Tribunnews.com/Tim Pusdatinkom BNPB
BUKA AKSES - Proses pembukaan dan pembersihan jalan akses dari Sumatra Utara menuju Aceh Tamiang, pada Selasa (2/12/2025) 

Ringkasan Berita:
  • Penanganan yang terpadu meliputi kesehatan fisik, kesehatan mental, air bersih, sanitasi, dan pemulihan lingkungan dipandang penting untuk mencegah krisis kesehatan.
  • Selain itu, penyakit berbasis air seperti hepatitis A, tipes, dan cacingan juga dapat muncul jika sanitasi tidak ditangani secara cepat.
  • Hal ini terjadi karena akses terhadap obat rutin terputus. Luka yang tidak ditangani pun berisiko menjadi infeksi serius, bahkan tetanus.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menimbulkan dampak kesehatan yang serius baik fisik maupun psikologis pada para penyintas.

Baca juga: Aksi Aktivis Ferry Irwandi Kumpulkan Rp 10,3 Miliar dalam 24 Jam untuk Korban Banjir di Sumatera

Ahli Kesehatan Masyarakat dan Peneliti Keamanan Kesehatan Global, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa pascabencana selalu memiliki pola risiko kesehatan tertentu, terutama pada kelompok rentan seperti anak dan perempuan.

“Kalau melihat situasi bencana ini, jelas dampak psikologis itu akan terjadi. Dengan juga beberapa jenis penyakit yang akan muncul seiring dengan bencana itu terjadi,” kata Dicky dalam keterangannya, Selasa (2/12/2025).

Menurut Dicky, dampak pertama yang muncul dalam 1–2 hari setelah bencana adalah gangguan psikologis. Kondisi ini dipicu oleh lingkungan pengungsian yang padat, kehilangan rumah, atau bahkan kehilangan anggota keluarga.

Rekomendasi Untuk Anda

“Dampak psikologis pada masyarakat terutama pada anak dan perempuan, karena dia menyebabkan stres akut maupun kronis akibat kehilangan rumah, harta, dan rasa aman,” jelasnya.

Gejala yang sering muncul meliputi stres berat, kecemasan, panic attack. Kemudian ganguan mental pada anak tantrum, ketakutan berulang serta sulit tidur.

Dicky menambahkan bahwa kondisi mental yang terganggu turut menurunkan daya tahan tubuh karena kurang tidur, makan tidak teratur, dan tekanan emosional yang berkepanjangan.

Dalam masa kritis 2–3 hari pertama, penyakit fisik mulai bermunculan. Penyakit paling dominan adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), akibat kepadatan tenda pengungsian, ventilasi buruk, suhu dingin dan lembab serta asap dapur darurat.

“Penyakit yang paling sering muncul pasca banjir itu pertama memang ISPA. Ini paling cepat meningkat dalam 48–72 jam pertama,” ujar Dicky.

Setelah itu, penyakit pencernaan seperti diare dan gastroenteritis mulai meningkat karena air minum terkontaminasi, sanitasi rusak, dan keterbatasan kebersihan tangan.

Masalah dermatologis seperti dermatitis, impetigo, dan infeksi kulit sekunder kerap muncul dalam beberapa hari berikutnya.

Baca juga: Data Basarnas dan BNPB Beda soal Korban Banjir Sumatera, Ini Penjelasan Kepala Basarnas

Wilayah dengan populasi tikus yang tinggi rawan terkena leptospirosis, sebuah penyakit yang dapat menyebabkan gagal organ jika tidak ditangani segera.

Selain itu, penyakit berbasis air seperti hepatitis A, tipes, dan cacingan juga dapat muncul jika sanitasi tidak ditangani secara cepat.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas