Memahami Cara Kerja dan Manfaat Neuronavigasi pada Operasi Tulang Belakang
Teknologi ini memungkinkan dokter "melihat" struktur di balik tulang tanpa harus melakukan pembukaan otot yang lebar.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Tantangan mikroskopis atau penggunaan mikroskop bedah pada operasi tulang belakang
- Pada kasus HNP dan stenosis spinal merupakan kasus yang membutuhkan akurasi tingkat tinggi
- Dibutuhkan teknologi Spinal Neuronavigation (neuronavigasi tulang belakang) sistem panduan mirip GPS yang membantu dokter melihat anatomi pasien
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Teknologi canggih mendukung cara kerja di dunia medis diantaranya dalam tindakan operasi. Perkembangan pesat ini mendorong peningkatan akurasi dan keamanan misalnya pada operasi tulang belakang.
Dokter spesialis bedah saraf Dimas Rahman Setiawan menjelaskan, terkait tantangan mikroskopis atau penggunaan mikroskop bedah pada operasi tulang belakang.
Sebagai contoh kasus Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) atau saraf kejapit dan stenosis spinal (penyempitan saluran saraf).
Pada kasus HNP dan stenosis spinal merupakan kasus yang membutuhkan akurasi tingkat tinggi, dimana area operasi sangat sempit dan berdekatan dengan struktur saraf vital.
Baca juga: Anak Sering Mengeluh Pegal? Awas Jangan Sepelekan, Ini Tanda Kelainan Tulang Skoliosis
Karena itu dibutuhkan teknologi Spinal Neuronavigation (neuronavigasi tulang belakang) sistem panduan mirip GPS yang membantu dokter melihat anatomi pasien secara real-time dalam tiga dimensi.
“Teknologi ini memungkinkan dokter "melihat" struktur di balik tulang tanpa harus melakukan pembukaan otot yang lebar,” jelasnya saat
Launching Alat Neuronavigasi di Gedung Annex, Rumah Sakit Jakarta, Kamis (11/12/2025)
Dengan teknologi ini, identifikasi batas tulang menjadi lebih jelas dimana bisa menentukan seberapa banyak tulang lamina yang harus diangkat (laminotomi) untuk membebaskan saraf tanpa mengganggu stabilitas tulang belakang.
Selain itu juga menurunkan risiko cedera hingga pendarahan.
Sementara pada operasi skoliosis (kondisi ketika tulang belakang melengkung ke samping) ada tantangan terkait kompleksitas anatomi pada tulang belakang yang mengalami rotasi dan kelengkungan ekstrem, sehingga penanda anatomi (anatomical landmarks) konvensional sering kali sulit dikenali atau bahkan hilang.
"Teknologi ini bisa menghindari risiko sekrup menembus saluran saraf (yang dapat menyebabkan kelumpuhan) atau mencederai pembuluh darah besar di sekitar aorta," kata dokter spesialis bedah dr. Wawan Mulyawan.
Ditambahkan dokter spesialis bedah saraf lain dr. Danu Rolian, membahas penanganan fraktur kompresi vertebra (patah tulang pada ruas tulang belakang karena tulang tertekan atau mengempis), umumnya disebabkan oleh osteoporosis atau trauma.
Fokus pada prosedur Kyphoplasty atau teknik menyuntikkan semen tulang khusus untuk mengembalikan kekuatan, tinggi ruas tulang belakang yang remuk hingga menghilangkan nyeri.
Meskipun Kyphoplasty adalah prosedur minimal invasif, risiko kebocoran semen (cement leakage) ke saluran saraf tetap ada jika dilakukan tanpa panduan visual yang akurat.
Teknologi neuronavigasi dapat meningkatkan akurasi jalur jarum.