Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Dokter Ungkap Bahaya Mikroplastik, Bisa Picu Batuk Kronis hingga Kanker Paru

Ukuran mikroplastik yang sangat kecil memungkinkan partikel ini terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Hal tersebut bisa memicu gangguan paru.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Dokter Ungkap Bahaya Mikroplastik, Bisa Picu Batuk Kronis hingga Kanker Paru
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
HUJAN MIKROPLASTIK - Pengendara roda dua melintas saat hujan di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (3/11/2025). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan setelah hujan karena air langit itu, menurut temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional, mengandung mikroplastik. 

Ringkasan Berita:
  • Mikroplastik yang sangat kecil memungkinkan partikel ini terhirup dan masuk ke saluran pernapasan
  • Mikroplastik dikategorikan sebagai zat berbahaya
  • Berisiko menyebabkan kerusakan jaringan paru

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAMikroplastik kini tidak hanya menjadi ancaman di laut dan rantai makanan, tetapi juga telah terdeteksi di udara dan air hujan.

Beberapa waktu lalu, Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan partikel plastik berukuran sangat kecil telah terbawa angin dan turun bersama air hujan di wilayah Jakarta.

Ini menandakan paparan mikroplastik semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dokter Spesialis Paru RS Hermina Solo, dr Thifla Farhani SpP, menjelaskan bahwa mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran mikroskopis yang berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan.

“Mikroplastik itu merupakan partikel plastik yang sangat kecil jadi ukurannya itu kurang dari 5 mikrometer,” kata dr Thifla pada live streaming Healthy Talk di Tribun Health, Minggu (14/12/2025).

Baca juga: Wali Kota Semarang Tegaskan Penguatan Program Lingkungan untuk Atasi Mikroplastik

Ukuran mikroplastik yang sangat kecil membuatnya tidak kasatmata. 

Rekomendasi Untuk Anda

Partikel ini terbentuk dari proses degradasi sampah plastik yang terjadi dalam waktu lama, baik di darat maupun di laut.

Dalam perkembangannya, mikroplastik dapat terangkat ke atmosfer melalui proses penguapan, kemudian kembali turun ke permukaan bumi bersama hujan. 

Baca juga: Mikroplastik di Air Hujan Bisa Menempel di Kulit, Ini Dampak Jangka Panjang

Fenomena ini membuat paparan mikroplastik tidak lagi terbatas pada wilayah pesisir atau laut, melainkan juga daerah perkotaan.

Di Indonesia, beberapa wilayah dengan aktivitas manusia tinggi dilaporkan memiliki paparan mikroplastik cukup signifikan, termasuk Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Bisa Picu Peradangan Paru

Dr Thifla menegaskan, ukuran mikroplastik yang sangat kecil memungkinkan partikel ini terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. 

Jika paparan terjadi berulang, tubuh akan meresponsnya sebagai benda asing.

“Setiap partikel yang kecil ini jika terjadi paparan berulang itu akan menyebabkan terjadi proses peradangan,” ujarnya.

Respons awal tubuh umumnya berupa batuk. 

Batuk merupakan mekanisme pertahanan untuk mengeluarkan benda asing dari saluran napas. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas