Stres Jangan Dianggap Sepele, Dampaknya pada Lambung hingga Penyakit Serius
Stres berperan meningkatkan proses peradangan dalam tubuh. Faktor stres yang diproses di otak dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi sistemik.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Stres merupakan masalah kesehatan mental
- Sebagian orang menganggap stres adalah hal lumrah, namun memiliki konsekuensi biologis yang nyata dan tak bisa dianggap ringan
- Jika tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus, otak dapat memicu peningkatan produksi asam lambung
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stres kerap dipandang sebagai masalah psikologis semata. Padahal, dampaknya dapat meluas hingga memengaruhi organ tubuh, khususnya sistem pencernaan, serta berperan dalam memperberat penyakit serius.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH., MMB, menegaskan bahwa stres memiliki konsekuensi biologis yang nyata dan tidak dapat dianggap ringan.
“Bahwa stres itu tidak boleh dianggap sederhana,” ujar Prof. Ari yang juga merupakan konsultan penyakit lambung dan pencernaan itu saat ditemui di suatu diskusi kesehatan Jakarta, Senin (19/12/2025).
Baca juga: Faktor Genetik, Stres hingga Perubahan Hormon Picu Kerontokan Rambut
Ia menjelaskan, dalam tubuh manusia terdapat mekanisme yang dikenal sebagai brain-gut axis, yakni hubungan dua arah antara otak dan saluran pencernaan.
Ketika kondisi psikologis terganggu, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh organ pencernaan.
“Artinya kalau enggak beres, brain kita ini akan mengganggu usus kita,” kata Prof. Ari.
Dalam kondisi stres, kecemasan, atau tekanan emosional yang berlangsung terus-menerus, otak dapat memicu peningkatan produksi asam lambung.
Akibatnya, muncul keluhan seperti nyeri ulu hati, perih, mual, hingga kekambuhan gangguan lambung yang sebelumnya terkontrol.
Tidak hanya lambung, stres juga berpengaruh pada kondisi usus.
Usus yang sebelumnya stabil dapat mengalami peradangan kembali ketika seseorang berada dalam tekanan psikologis berkepanjangan.
Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian gangguan pencernaan sering kali berulang tanpa pemicu makanan yang jelas.
Secara ilmiah, stres juga diketahui berperan dalam meningkatkan proses peradangan di dalam tubuh.
Faktor-faktor stres yang diproses di otak dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi sistemik.
“Karena memang sudah terbukti, ada hubungan dengan faktor-faktor stres itu di otak, itu akan menyebabkan proses radangan jadi meningkat,” jelas Prof. Ari.
Baca tanpa iklan