Saat Kesehatan Mulut Ibu Menjadi Penentu Awal Kehidupan Anak
Menjaga senyum tetap sehat ternyata juga berarti menjaga masa depan sang buah hati. Peradangan gusi bukan sekadar persoalan mulut tapi risiko prematur
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kehamilan kerap dipahami sebagai perjalanan besar yang menuntut perhatian ekstra pada gizi, istirahat, dan pemeriksaan kandungan rutin. Namun, dibalik fokus tersebut, ada satu aspek yang sering luput dari perhatian banyak ibu hamil yakni kesehatan gusi dan gigi.
Baca juga: Momen Haru Ibu Hamil Minta Perutnya Dielus Presiden Prabowo di RSUD Koja
Padahal, para ahli mengingatkan bahwa peradangan gusi bukan sekadar persoalan mulut, melainkan kondisi yang dapat mempengaruhi kehamilan hingga proses persalinan.
Sejumlah penelitian menunjukkan, peradangan gusi pada ibu hamil berkaitan dengan risiko kelahiran prematur serta bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Temuan ini membuka perspektif baru bahwa kesehatan ibu dan janin tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung melalui sistem tubuh yang kompleks.
Ahli Penyakit Gusi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa ketika gusi mengalami peradangan berat selama kehamilan, tubuh ibu merespons kondisi tersebut secara menyeluruh, bukan hanya di rongga mulut.
“Ternyata ada beberapa pemeriksaan yang membuktikan bahwa ibu yang selama kehamilan mengalami peradangan penyakit gusi berat, gigi goyang, itu mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh. Sinyal tersebut bisa ditangkap oleh rahim dan memicu kontraksi sebelum waktunya,” ujar Prof. Amaliya dalam diskusi media Indonesia Hygiene Forum 2025, Rabu (17/12/2025).
Saat Masalah Kecil Kirim Sinyal Besar
Bagi sebagian ibu hamil, gusi berdarah atau terasa nyeri kerap dianggap keluhan ringan yang wajar terjadi selama kehamilan. Namun menurut Prof. Amaliya, pada kondisi tertentu, gusi yang meradang melepaskan penanda inflamasi yang masuk ke aliran darah dan menyebar ke berbagai organ tubuh.
Baca juga: Ini Penyebab Kelahiran Prematur: Usia, Hipertensi, Pre Eklampsia Hingga Diabetes
Sinyal inflamasi ini dapat mencapai plasenta, organ vital yang menjadi satu-satunya jalur kehidupan antara ibu dan janin. Plasenta bertugas menyalurkan oksigen dan nutrisi agar janin dapat tumbuh optimal di dalam kandungan.
“Ketika sinyal peradangan dari gusi sampai ke plasenta, pembuluh darah di plasenta bisa terpengaruh. Akibatnya, nutrisi dan darah yang seharusnya dikirimkan ke janin menjadi berkurang,” jelasnya.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah terganggunya pertumbuhan janin. Bayi berisiko lahir dengan berat badan di bawah 2,5 kilogram atau yang dikenal sebagai bayi berat lahir rendah, kondisi yang dapat memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.
Risiko Prematur
Selain BBLR, peradangan gusi juga dikaitkan dengan kelahiran prematur, yaitu persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kontraksi dini ini diduga merupakan respons tubuh terhadap sinyal inflamasi yang berasal dari jaringan gusi yang mengalami peradangan kronis.
“Ada beberapa penelitian yang sudah menunjukkan hubungan antara kelahiran prematur dengan peradangan gusi pada ibu hamil,” kata Prof. Amaliya.
Kelahiran prematur bukan sekadar soal waktu yang lebih cepat. Bayi yang lahir terlalu dini berisiko menghadapi berbagai tantangan kesehatan karena organ tubuhnya belum berkembang sempurna, mulai dari gangguan pernapasan hingga sistem imun yang lemah.
Menjaga Gusi, Menjaga Kehidupan
Baca tanpa iklan