Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Anak Aktif Sering Dibilang Nakal? Psikolog Ingatkan Dampak Label Negatif

Psikolog jelaskan soal orang tua sebut anaknya nakal ketika anak sulit diatur, aktif bergerak, atau tidak sesuai harapan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Anak Aktif Sering Dibilang Nakal? Psikolog Ingatkan Dampak Label Negatif
Kanal YouTube Tribun Health
PERKEMBANGAN ANAK - Psikolog asal Kota Solo, Jawa Tengah, Wiwik Widiyanti, M.Psi saat Talkshow MOMSPIRATION di kanal YouTube Tribun Health, Kamis (25/12/2025). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masih banyak orang tua tanpa sadar melabeli anaknya dengan sebutan “nakal” ketika anak sulit diatur, aktif bergerak, atau tidak sesuai harapan.

Padahal, menurut psikolog, label semacam itu bukan hanya keliru, tetapi juga berpotensi berdampak pada kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Psikolog asal Kota Solo, Jawa Tengah, Wiwik Widiyanti, M.Psi menegaskan bahwa menyebut anak “nakal” seharusnya tidak lagi dilakukan.

Karena perilaku yang sering dianggap nakal justru merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak yang normal.

“Karena kita bilang anak nakal saja, sebenarnya kan tidak boleh. Proses perkembangan, tumbuh kembang anak itu kan semakin hari semakin meningkat. Yang tadinya tidak bisa jalan, tidak bisa ngomong, lalu dia bisa bergerak ke sana ke sini dan merasa ‘aku bisa’,” jelas Wiwik pada Talkshow MOMSPIRATION di kanal YouTube Tribun Health, Kamis (25/12/2025).

Baca juga: Psikolog Soroti Kondisi Psikis Inara Rusli usai Terlibat Skandal Perselingkuhan dengan Insanul Fahmi

Aktif Bukan Nakal, Itu Fase Perkembangan

Wiwik menjelaskan, pada usia tertentu, terutama sekitar 3–4 tahun, anak berada pada fase egosentris.

Di masa ini, anak sedang berada dalam periode golden age, ketika perkembangan otak, kognitif, motorik, dan bahasa berlangsung sangat pesat.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, karena keterbatasan pemahaman, banyak orang tua justru menilai fase ini sebagai perilaku bermasalah.

“Banyak orang tua bilang anaknya susah diatur. Padahal ini masa egosentris. Jangan dilabeli nakal, karena neuron-neuronnya tumbuh sangat cepat,” ujar Wiwik.

Ia menekankan bahwa label negatif dapat tertanam dalam diri anak dan membentuk konsep diri yang tidak sehat, terutama jika terus diulang oleh orang tua.

Ucapan Orang Tua Bisa Menjadi Doa

Dalam perspektif psikologis dan nilai keluarga, Wiwik mengingatkan bahwa ucapan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak.

Kata-kata yang diulang, baik atau buruk, dapat menjadi identitas yang dipercaya anak tentang dirinya sendiri.

Alih-alih melabeli anak dengan kata negatif, orang tua dianjurkan mengganti sudut pandang dengan bahasa yang lebih positif dan empatik.

“Kita bisa menyebutnya bukan nakal, tapi aktif, atau sedang berkembang. Karena ucapan orang tua itu bisa menjadi doa,” katanya.

Pendekatan ini bukan berarti membiarkan perilaku anak tanpa arahan, melainkan mengoreksi dengan bahasa yang membangun dan tidak merendahkan.

Baca juga: Parenting Aman Menurut Psikolog: Bukan Soal Anak Nurut, tapi Merasa Dilindungi

Rumah Berantakan Bukan Tanda Gagal Mengasuh

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas