Anak Aktif Sering Dibilang Nakal? Psikolog Ingatkan Dampak Label Negatif
Psikolog jelaskan soal orang tua sebut anaknya nakal ketika anak sulit diatur, aktif bergerak, atau tidak sesuai harapan.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Endra Kurniawan
Dalam keseharian, perilaku anak yang aktif sering terlihat dari rumah yang berantakan, mainan berserakan, atau coretan di dinding.
Namun Wiwik mengajak orang tua untuk melihat situasi ini sebagai bagian dari kreativitas dan imajinasi anak, bukan semata-mata kenakalan.
Ia mengingatkan bahwa masa-masa ini tidak akan terulang, dan sering kali justru dirindukan ketika anak sudah beranjak besar.
Menurutnya, orang tua juga perlu mengenali kondisi emosinya sendiri.
Saat lelah atau emosi, tidak ada salahnya menunda respons dan memberi waktu diri sendiri untuk tenang, daripada meluapkan emosi kepada anak.
Ancaman atau Pilihan?
Soal disiplin, Wiwik menilai pendekatan memberi pilihan jauh lebih sehat dibanding ancaman.
Daripada menakut-nakuti anak, orang tua dapat menjelaskan sebab dan akibat dari suatu tindakan.
“Lebih baik kasih pilihan. Kalau mainan masih mau dipakai, berarti disimpan dan dirawat. Kalau digeletakkan, berarti boleh disedekahkan. Jadi anak belajar bertanggung jawab,” jelasnya.
Pendekatan ini membantu anak memahami konsekuensi tanpa merasa tertekan atau takut.
Wiwik menegaskan bahwa pola asuh yang ideal bukan yang otoriter atau permisif, melainkan otoritatif, tegas tetapi hangat, konsisten namun tetap fleksibel.
Pola ini memberi ruang bagi anak untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya, tanpa tekanan berlebihan.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesatuan suara antara ayah dan ibu dalam mengambil keputusan pengasuhan, agar anak tidak bingung atau mencari pembela.
Baca juga: Psikolog Ungkap Pola Pikir Pelaku Bullying di Era Digital, Diam Bisa Jadi Bentuk Perlindungan Diri
Menurutnya, kesehatan mental anak tidak hanya dibentuk oleh aturan, tetapi oleh suasana emosional di rumah dan cara orang tua memaknai perilaku anak.
Melabeli anak sebagai “nakal” mungkin terdengar sepele, tetapi bagi anak, itu bisa menjadi beban yang ia bawa hingga dewasa.
Karena itu, Wiwik menekankan bahwa memahami fase perkembangan anak dan memilih kata yang tepat adalah bagian penting dari menjaga kesehatan mental anak sejak dini. (*)