Libur Akhir Tahun Rawan Campak, Ini Risiko Komplikasi Serius pada Anak yang Belum Divaksin
Libur akhir tahun identik dengan momen berkumpul bersama keluarga, bepergian, dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Penanganannya bersifat suportif, mulai dari istirahat cukup, pemenuhan cairan dan gizi, hingga pemberian vitamin A dosis tinggi sesuai anjuran dokter.
“Mengingat penanganan campak hanya bersifat suportif, pencegahan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan, yakni dengan melengkapi vaksinasi dan menjaga imunitas bayi dan anak,"imbuhnya.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksin MR diberikan pertama kali pada usia 9 bulan, dosis kedua pada usia 15–18 bulan, dan dosis ketiga saat anak berusia 5–7 tahun.
Jadwal ini bertujuan membentuk perlindungan optimal terhadap campak dan rubella.
Bahaya Penolakan Vaksin bagi Bayi
Masih adanya penolakan vaksin menjadi salah satu penyebab menurunnya cakupan imunisasi dan meningkatnya kasus campak.
Padahal, satu anak yang tidak divaksinasi dapat menularkan virus ke hampir semua orang di sekitarnya yang belum memiliki kekebalan.
Ironisnya, bayi di bawah usia 9 bulan yang belum bisa divaksin justru menjadi kelompok paling terdampak.
Satu-satunya perlindungan mereka adalah kekebalan kelompok atau herd immunity, yakni ketika lingkungan sekitar sudah terlindungi oleh vaksin.
Untuk bayi yang belum cukup usia vaksin, orang tua perlu memastikan lingkungan tetap aman, mulai dari penggunaan masker, rajin mencuci tangan, hingga membatasi kontak dengan orang yang sedang sakit.
“Melihat komplikasinya yang berat dan sangat berisiko bagi anak, pencegahan dengan melengkapi vaksin menjadi prioritas utama,"pesannya.
Dengan cakupan vaksin yang tinggi, penyebaran virus campak dapat ditekan, sekaligus melindungi bayi yang belum memiliki kekebalan.
Langkah sederhana ini menjadi investasi besar untuk menjaga kesehatan anak dan masa depan generasi penerus bangsa.
Baca tanpa iklan