Anak Sudah Makan Tiap Hari, Tapi Gizinya Belum Tentu Cukup, Dokter Jelaskan Kuncinya
Anak makan tiap hari belum tentu gizinya cukup. Kunci utamanya ada pada komposisi seimbang dan pengenalan makanan sejak dini.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Eko Sutriyanto
Proses ini berjalan seiring dengan pengenalan jenis makanan baru, tanpa paksaan.
Selain faktor kebiasaan makan, kondisi kesehatan anak juga perlu menjadi perhatian.
Gangguan pencernaan atau masalah klinis tertentu dapat memengaruhi nafsu makan dan penyerapan zat gizi.
Dalam kondisi tersebut, evaluasi medis menjadi langkah penting, apakah diperlukan pengobatan atau cukup dengan penyesuaian komposisi makanan.
Diana menegaskan bahwa evaluasi tumbuh kembang anak tidak dibatasi oleh usia tertentu.
Sejak lahir, pemantauan sudah harus dilakukan, dimulai dari pemenuhan ASI hingga pemantauan pertumbuhan melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Baca juga: BGN Tegaskan Menu MBG Saat Libur Sekolah Bebas UPF, Tetap Mengacu Gizi Seimbang
Dalam upaya pencegahan masalah gizi, Diana mengingatkan bahwa pendekatan yang sering keliru adalah fokus langsung pada suplemen atau zat gizi mikro, tanpa memastikan kecukupan zat gizi makro.
“Gisi seimbang dulu baru pelengkapannya adalah zat gisi mikro. Jadi kita tidak bisa mencegah dari mikro dulu terus berkembang ke makro, nggak bisa,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa kekurangan zat gizi mikro sering kali berjalan seiring dengan kekurangan zat gizi makro.
Karena itu, memperbaiki pola makan harian secara menyeluruh menjadi fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.
Dengan pola makan yang seimbang, pengenalan makanan yang bertahap, serta pemantauan kesehatan yang konsisten, kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi tanpa harus bergantung pada cara instan.
Prinsip sederhana inilah yang dinilai menjadi kunci penting membangun kualitas kesehatan anak sejak usia dini.
Baca tanpa iklan