Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Dokter Ingatkan Bahaya Air Banjir bagi Anak, Risiko Infeksi hingga Leptospirosis

Anak-anak yang bermain tanpa alas kaki atau tanpa pengawasan orang dewasa berisiko terluka, terseret arus, bahkan tenggelam meski di genangan dangkal.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
zoom-in Dokter Ingatkan Bahaya Air Banjir bagi Anak, Risiko Infeksi hingga Leptospirosis
Istimewa
BANJIR JAKARTA - Ruas Jalan Gunung Sahari, Sawah Besar, Jakarta Pusat, tergenang air cukup tinggi pada Senin pagi hingga siang (12/1/2026) akibat intensitas hujan yang lebat mengguyur wilayah ibu kota/ istimewa 

Ringkasan Berita:
  • Anak jangan dibiarkan bermain di air banjir atau genangan. Jika terpaksa melewati area terdampak banjir, anak harus menggunakan alas kaki
  • Edukasi kepada orang tua dan wali menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko kesehatan akibat banjir
  • Bahaya lain yang kerap luput dari perhatian adalah risiko cedera fisik. Genangan banjir dapat menyembunyikan benda tajam, lubang, atau arus air yang tidak terlihat.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur berbagai wilayah dalam beberapa waktu terakhir kembali memicu banjir di sejumlah daerah. Di tengah genangan air yang kerap dijadikan arena bermain oleh anak-anak, tersimpan ancaman kesehatan serius yang sering kali luput dari perhatian orang tua. 

Baca juga: Penanganan Darurat Banjr dan Longsor Sukabumi Diproyeksikan Selesai dalam 2 Pekan

Air banjir bukan sekadar air hujan yang menggenang, melainkan campuran limbah berbahaya yang dapat menjadi media penularan berbagai penyakit, terutama bagi anak-anak yang sistem imunnya belum matang dan perilakunya cenderung eksploratif.

Dokter Ahli Epidemiologi sekaligus Pakar Kesehatan Lingkungan, Dicky Budiman, menegaskan bahwa air banjir sama sekali tidak aman, khususnya bagi anak-anak. Secara epidemiologi, air banjir justru dikategorikan sebagai media penularan penyakit dengan tingkat risiko tinggi.

“Kalau bicara air banjir, itu bukan air hujan murni. Air banjir adalah air campuran. Dan air banjir itu tidak pernah aman,” ujar Dicky Budiman kepada Tribunnews, Senin (12/1/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menjelaskan, air banjir merupakan campuran dari limbah rumah tangga, aliran selokan, hingga kotoran manusia dan hewan. Kondisi tersebut membuat air banjir mengandung berbagai agen penyakit dan zat berbahaya yang dapat berdampak langsung pada kesehatan.

“Karena dia merupakan campuran dari limbah rumah tangga dan selokan. Ada tinja atau kotoran manusia dan hewan. Kemudian juga ada bakteri, ada virus, ada parasit, ada jamur,” jelasnya.

Kelompok Rentan

Menurut Dicky, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak buruk air banjir. Selain karena sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang optimal, anak juga memiliki perilaku yang cenderung aktif dan sulit membedakan mana yang aman dan berbahaya.

Anak-anak kerap bermain air banjir tanpa menyadari bahwa tangan, kaki, atau benda yang terkontaminasi dapat masuk ke mulut. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran cerna akut, termasuk diare.

Baca juga: Bukan Super Flu, Menkes Lebih Khawatir Penyakit Ini Menyebar di Pengungsian Korban Bencana

Tak hanya itu, paparan air banjir juga berisiko menimbulkan penyakit kulit dan infeksi jaringan lunak. Luka kecil yang terkena air banjir dapat menjadi pintu masuk bakteri dan berkembang menjadi infeksi serius bila tidak segera dibersihkan.

Air banjir juga sering mengandung parasit seperti cacing, larva, dan telur cacing yang dapat masuk ke dalam tubuh anak melalui air yang tertelan secara tidak sengaja saat bermain.

Risiko kesehatan lain yang perlu diwaspadai adalah penyakit zoonosis, salah satunya leptospirosis yang ditularkan melalui urin tikus. Penyakit ini kerap sulit terdeteksi pada anak karena gejalanya tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit lain.

Selain itu, anak yang terlalu lama terpapar air banjir juga berisiko mengalami hipotermia, penurunan daya tahan tubuh, hingga infeksi saluran pernapasan akut seperti pneumonia.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas