Anak Mau Ikut Puasa Saat Ramadan? Ketahui Batas Aman Versi Dokter
Puasa pada anak bukan soal kuat atau tidak menahan lapar. Melainkan proses bertahap disesuaikan usia, kondisi tubuh, dan kesiapan anak itu sendiri.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Orang tua perlu memastikan anak terbiasa makan dengan pola seimbang, termasuk cukup karbohidrat, protein, serta cairan. Jika asupan sehari-hari sudah baik, proses belajar puasa pun akan lebih aman.
Anak Sering Lupa Minum, Ini yang Perlu Diwaspadai
Salah satu tantangan saat anak mulai puasa adalah kebiasaan lupa minum air putih. Padahal, kecukupan cairan sangat penting bagi tubuh anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Karena itu, orang tua perlu lebih aktif mengingatkan anak untuk minum saat sahur dan berbuka, meski anak sering mengeluh “tidak haus” atau “tidak ada rasanya”.
Selain itu, dr. Irwan menyebutkan bahwa dalam kondisi tertentu, suplementasi bisa menjadi penunjang, terutama untuk mendukung proses tumbuh kembang anak selama Ramadan.
“Artinya bahwa semua untuk anak-anak kalau ingin memulai puasa sedikit mungkin, kalau memang anaknya sudah mau, jangan dipaksa, gitu kan. Tapi perhatikan juga impact-nya dia dan juga perlu menunjang dengan vitamin,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa belajar puasa pada anak harus bersifat fleksibel dan sangat individual.
Setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda, baik secara fisik maupun mental.
Jika orang tua masih ragu, konsultasi dengan dokter anak bisa menjadi langkah bijak untuk memastikan kondisi anak aman sebelum mulai belajar puasa.
Ramadan pun bisa menjadi momen edukatif yang menyenangkan bagi anak, tanpa mengorbankan kesehatan dan kebutuhan tumbuh kembangnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)