Bergejala Awal Mirip Flu, Penyakit Virus Nipah Punya Tingkat Kematian 75 Persen
Wabah virus nipah sedang terjadi di India, pasiennya kritis. Seberapa bahaya penyakit ini?
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- Wabah virus nipah sedang terjadi di India.
- Satu dari 2 pasien yang tertular virus ini dalam kondisi kritis.
- Gejala sering bermula dari keluhan seperti flu (“flu-like illness”) dengan demam, sakit kepala, nyeri otot dan lemah.
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Wabah virus nipah sedang terjadi di India.
Ditemukan 2 kasus, dengan salah satu pasien dalam kondisi kritis.
Baca juga: Ada Wabah Virus Nipah di India: Kenali Gejala, Risiko dan Pencegahannya
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berpotensi menyebabkan gangguan serius pada manusia dan memiliki angka kematian yang tinggi
Seberapa bahaya penyakit ini?
Pakar kesehatan sekaligus Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, virus ini memiliki masa inkubasi antara 4 sampai 21 hari.
Gejala sering bermula dari keluhan seperti flu (“flu-like illness”) dengan demam, sakit kepala, nyeri otot dan lemah.
Baca juga: Virus Nipah Kembali Jadi Sorotan Global, Ini Alasan Dunia Perlu Kembali Waspada
Namun ada, masalah utama yang terjadi kemudian yakni gangguan paru dan gangguan di otak.
"Biasanya dimulai dari paru bermula dari batuk, sesak napas, lalu terjadi pneumonia yang kalau tidak tertangtani dapat timbul gagal napas" kata dia di Jakarta ditulis Selasa (27/1/2026).
Lalu, ada gangguan otak dapat berupa ensefalitis atau radang otak, yang pada sebagian kasus terjadi meningitis.
Biasanya pasien menunjukkan berbagai gejala neurologis seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang dan bahkan koma.
Bahkan kalau sudah berat maka angka kematiannya dapat sampai 40 - 75 persen menurut data WHO atau organisasi kesehatan dunia.
"Sayangnya, hingga kini belum ada vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah ini, dan tidak ada juga obat spesifiknya," tutur dia.
Di dunia sudah ada sekityar 750 kasus sejak 1998-1999 yang bermula sari Malaysia, dan hingga kini letusan kasus sudah pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipna dan Singapura.
Baca tanpa iklan