Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Bergejala Awal Mirip Flu, Penyakit Virus Nipah Punya Tingkat Kematian 75 Persen

Wabah virus nipah sedang terjadi di India, pasiennya kritis. Seberapa bahaya penyakit ini?

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Bergejala Awal Mirip Flu, Penyakit Virus Nipah Punya Tingkat Kematian 75 Persen
KATERYNA KON / SCIENCE PHOTO LIBRA / KKO / Science Photo Library via AFP
Ilustrasi virus Nipah - Wabah virus nipah sedang terjadi di India, pasiennya kritis. Seberapa bahaya penyakit ini? 

Ringkasan Berita:
  • Wabah virus nipah sedang terjadi di India.
  • Satu dari 2 pasien yang tertular virus ini dalam kondisi kritis.
  • Gejala sering bermula dari keluhan seperti flu (“flu-like illness”) dengan demam, sakit kepala, nyeri otot dan lemah.

 

 


TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Wabah virus nipah sedang terjadi di India.

Ditemukan 2 kasus, dengan salah satu pasien dalam kondisi kritis.

Baca juga: Ada Wabah Virus Nipah di India: Kenali Gejala, Risiko dan Pencegahannya

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berpotensi menyebabkan gangguan serius pada manusia dan memiliki angka kematian yang tinggi

Seberapa bahaya penyakit ini?

Rekomendasi Untuk Anda

Pakar kesehatan sekaligus Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, virus ini memiliki masa inkubasi antara 4 sampai 21 hari.

Gejala sering bermula dari keluhan seperti flu (“flu-like illness”) dengan demam, sakit kepala, nyeri otot dan lemah.

Baca juga: Virus Nipah Kembali Jadi Sorotan Global, Ini Alasan Dunia Perlu Kembali Waspada

Namun ada, masalah utama yang terjadi kemudian yakni gangguan paru dan gangguan di otak.

"Biasanya dimulai dari paru bermula dari batuk, sesak napas, lalu terjadi pneumonia yang kalau tidak tertangtani dapat timbul gagal napas" kata dia di Jakarta ditulis Selasa (27/1/2026).

Lalu, ada gangguan otak dapat berupa ensefalitis atau radang otak, yang pada sebagian kasus terjadi meningitis.

Biasanya pasien menunjukkan berbagai gejala neurologis seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang dan bahkan koma.

Bahkan kalau sudah berat maka angka kematiannya dapat sampai 40 - 75 persen menurut data WHO atau organisasi kesehatan dunia.

Seorang petugas kesehatan membawa kotak berisi sampel ke fasilitas pengujian seluler virus Nipah Dewan Penelitian Medis India (ICMR) di rumah sakit pemerintah di Kozhikode di negara bagian Kerala, India selatan, pada 15 September 2023. India telah membatasi pertemuan publik dan menutup beberapa sekolah di India negara bagian Kerala di selatan setelah dua orang meninggal karena Nipah, virus dari kelelawar atau babi yang menyebabkan demam mematikan. Virus ini belum memiliki vaksin dan tingkat kematiannya berkisar antara 40 hingga 75 persen, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. (Photo by AFP)
Seorang petugas kesehatan membawa kotak berisi sampel ke fasilitas pengujian seluler virus Nipah Dewan Penelitian Medis India (ICMR) di rumah sakit pemerintah di Kozhikode di negara bagian Kerala, India selatan, pada 15 September 2023. India telah membatasi pertemuan publik dan menutup beberapa sekolah di India negara bagian Kerala di selatan setelah dua orang meninggal karena Nipah, virus dari kelelawar atau babi yang menyebabkan demam mematikan. Virus ini belum memiliki vaksin dan tingkat kematiannya berkisar antara 40 hingga 75 persen, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. (Photo by AFP) (AFP/-)

"Sayangnya, hingga kini belum ada vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah ini, dan tidak ada juga obat spesifiknya," tutur dia.

Di dunia sudah ada sekityar 750 kasus sejak 1998-1999 yang bermula sari Malaysia, dan hingga kini letusan kasus sudah pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipna dan Singapura.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas