Sebab Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi: Genetik dan Faktor Eksternal saat Kehamilan
Berdasarkan data Center for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 8 dari 1.000 bayi lahir dengan PJB.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Tak hanya orang dewasa, tak sedikit bayi punya masalah jantung sejak lahir
- Berdasarkan data Center for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 8 dari 1.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan
- Dari jumlah tersebut, satu dari empat bayi membutuhkan intervensi bedah atau non-bedah secara darurat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selama ini penyakit jantung kerap diasosiasikan dengan usia dewasa atau lanjut usia.
Padahal, tidak sedikit bayi yang sudah membawa masalah jantung sejak pertama kali menghirup udara dunia.
Kondisi tersebut dikenal sebagai Penyakit Jantung Bawaan (PJB), yakni kelainan struktur jantung yang terjadi sejak lahir dan dapat memengaruhi aliran darah di dalam jantung maupun ke seluruh tubuh.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Aditya Agita Sembiring, Sp.JP, Subsp.K.Ped.P.J.B. (K), menjelaskan bahwa PJB bukanlah kondisi langka.
Baca juga: 106 Ribu Pasien Penyakit Berat Kembali Tercover BPJS PBI, dari Pasien Jantung hingga Kanker
“Penyakit Jantung Bawaan (PJB) yaitu suatu kelainan struktur jantung yang didapatkan sejak lahir,” jelas dr Aditya pada keterangannya, Senin (9/2/2026).
Berdasarkan data Center for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 8 dari 1.000 bayi lahir dengan PJB.
Dari jumlah tersebut, satu dari empat bayi membutuhkan intervensi bedah atau non-bedah secara darurat.
Penyebab Masih Kompleks, Bisa Dipengaruhi Faktor Genetik dan Lingkungan
Hingga kini, penyebab pasti PJB belum sepenuhnya diketahui.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan keterkaitan dengan faktor genetik maupun faktor eksternal yang terjadi saat kehamilan.
Kelainan genetik yang tidak diwariskan orang tua, seperti Down syndrome, maupun yang diturunkan seperti Turner syndrome, disebut berperan dalam munculnya PJB.
Selain itu, faktor eksternal juga perlu menjadi perhatian serius. Infeksi selama kehamilan, seperti rubella dan sifilis, hingga konsumsi obat tertentu pada fase pembentukan jantung janin dapat meningkatkan risiko PJB.
Karena itu, perencanaan kehamilan yang matang dan konsultasi medis sebelum hamil menjadi langkah penting untuk menekan risiko.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan