Kenali Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Penyebab, Gejala dan Penanganannya
Kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Indonesia ada sekitar 1.000 kasus per 100.000 kelahiran,. Kenali gejalanya.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Ringkasan Berita:
- Kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Indonesia ada sekitar 1.000 kasus per 100.000 kelahiran.
- Totalnya sekitar 80.000 bayi lahir dengan PJB per tahun.
- Angka ini tidak sedikit, dimana sebagian besar kasus PJB terlambat didiagnosis.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Indonesia ada sekitar 1.000 kasus per 100.000 kelahiran, dengan total sekitar 80.000 bayi lahir dengan PJB per tahun.
Angka ini tidak sedikit, dimana sebagian besar kasus PJB terlambat didiagnosis.
Baca juga: Sebab Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi: Genetik dan Faktor Eksternal saat Kehamilan
Karena itu, deteksi dini menjadi kunci.
Kenali penyebab, tanda bahaya dan pencegahan penyakit jantung bawaan pada anak.
Hal ini disampaikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiologi pediatrik dan penyakit jantung bawaan dr. Asmoko Resta Permana, dalam kegiatan di Jakarta Timur, Kamis (12/2).
Apa itu penyakit jantung bawaan?
PJB adalah kondisi dimana terjadi kelainan pada struktur jantung yang terjadi sejak pembentukan janin atau saat hamil.
Kondisi ini memiliki dampak serius jika tidak diobati serius sejak awal.
“Kelainan ini terjadi saat proses pembentukan organ janin ketika hamil. Karena itu, kondisi kesehatan ibu selama hamil sangat berpengaruh,” tutur dr Asmoko.
Faktor Risiko
Ia mengatakan, faktor risiko penyakit jantung bawaan ini terjadi karena multifaktor, antara lain kesehatan ibu.
Saat hamil dan memiliki penyakit diabetes, infeksi saat hamil (rubella, toksoplasma), hipertensi atau penyakit lain yang tidak terkontrol, konsumsi obat-obatan tertentu tanpa pengawasan, konsumsi alkohol, paparan asap rokok, atau hehamilan usia ≥ 35 tahun, itu semua bisa meningkatkan kemungkinan anak memiliki penyakit jantung bawaan.
“Kenapa di usia 35 ke atas itu berisiko mengalami penyakit jantung bawaan. Karena sel-sel telurnya kualitasnya udah menurun,” ungkap dia.
Kemudian faktor genetik atau keturunan.
Baca tanpa iklan