Kenali Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Penyebab, Gejala dan Penanganannya
Kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Indonesia ada sekitar 1.000 kasus per 100.000 kelahiran,. Kenali gejalanya.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Anita K Wardhani
Jika salah satu orang tua memiliki riwayat penyakit jantung bawaan, maka risiko pada anak meningkat sekitar 5–10 persen.
Jenis Penyakit Jantung Bawaan
Secara umum dibagi menjadi dua yaitu PJB Sianotik (tampak Biru) dan PJB Asianotik (tidak tampak biru).
PJB Sianotik (tampak biru) dengan ciri -ciri: bibir dan bagian dalam mulut tampak biru, pada anak lebih besar, jari bisa membesar (clubbing) dan sering jongkok karena kelelahan, mudah lelah saat menyusu baik saat mengenakan dot atau langsung mengASIhi maupun erat badan sulit naik.
“Bahayanya apa? Kalau penyakit jantung bawaan dengan cirinya biru, yang bahaya yang paling ekstrim adalah serangan spell. Tubuhnya menjadi makin biru, kejang atau penurunan kesadaran. Segera ke rumah sakit, jangan ditunda,” pesan dr Asmoko.
PJB Asianotik (tidak tampak biru) dengan ciri-ciri: sering batuk pilek berulang, mudah lelah saat menyusu, anak cepat lelah saat bermain, berat badan sulit naik, berkeringat tanpa sebab dan napas cepat.
“Kondisi ini bisa membuat gagal jantung. Jika anak menunjukkan kondisi cuping hidung kembang-kempis, dinding dada tampak cekung saat menarik napas, anak semakin rewel saat ditidurkan hingga berkeringat berlebihan. Itu adalah tanda bahaya segera ke rumah sakit,” ungkap dia.
Jika sudah terdeteksi maka anak yang harus segera ditangani.
Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan dokter seperti pemeriksaan fisik, pengukuran saturasi oksigen, rekam jantung (EKG), Ekokardiografi (USG jantung).
Sementara pemeriksaan kateterisasi jantung dan CT scan dilakukan jika diperlukan dengan indikasi khusus.
“Tapi yang wajib selalu pemeriksaan fisik dan saturasi oksigen. Jadi dokter itu harus periksa kadar oksigen apalagi sesudah lahir,” tutur dr Asmoko.
Pencegahan
Langkah penting yang bisa dilakukan: kontrol kehamilan rutin, kendalikan diabetes dan hipertensi, hindari rokok dan alkohol, konsumsi obat hanya atas pengawasan dokter, hindari paparan radiasi terutama trimester pertama.
“Segera kenali karena tujuannya di-screening lebih awal. Jika ditemukan lebih awal besar kemungkinan anak tumbuh kembang seperti anak normal. Semakin awal dideteksi besar harapannya bisa lepas obat,” ungkap nya.
Baca tanpa iklan