Sering Ngantuk Usai Makan Manis? Bisa Jadi Tanda Lonjakan Gula Darah
Sering makan manis bikin cepat tua? Dokter sebut gula dan lemak trans picu inflamasi serta lonjakan gula darah yang bikin cepat lelah
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Dokter spesialis gizi klinik Karina Marcella Widjaja menjelaskan konsumsi makanan tinggi gula dan lemak trans dapat memicu inflamasi yang mempercepat kerusakan sel
- Lonjakan gula darah akibat karbohidrat sederhana juga menyebabkan tubuh cepat lelah dan mengantuk.
- Mengurangi gula serta memilih karbohidrat kompleks dinilai membantu menjaga energi dan memperlambat penuaan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Rasa kantuk setelah mengonsumsi makanan manis atau fast food kerap dianggap hal biasa.
Padahal, kebiasaan tersebut berkaitan dengan lonjakan gula darah yang dapat memengaruhi energi tubuh hingga mempercepat proses penuaan.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Karina Marcella Widjaja, menjelaskan makanan tinggi gula dan lemak trans dapat memicu inflamasi dalam tubuh.
Proses inflamasi inilah yang berperan dalam mempercepat kerusakan sel.
“Makanan yang dapat meningkatkan proses inflamasi contohnya gula, gula buatan, dan makanan trans fat seperti fast food dan daging olahan,” ujarnya dalam media gathering di Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).
Minuman bersoda, permen, kue, serta makanan olahan tinggi gula termasuk pemicu utama lonjakan gula darah.
Saat kadar gula meningkat drastis lalu turun dengan cepat, tubuh merespons dengan rasa lelah dan kantuk.
Menurut dr. Karina, kondisi tersebut berkaitan dengan jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Karbohidrat sederhana dicerna sangat cepat sehingga memicu fluktuasi energi.
Baca juga: Waspada Gula Darah Turun Drastis, Simak Panduan Penyesuaian Obat Diabetes Jelang Puasa
“Karbohidrat simpleks tinggi gula, tetapi nutrisinya sangat rendah dan indeks glikemiknya tinggi,” jelasnya.
Sebaliknya, karbohidrat kompleks seperti nasi, oatmeal, kentang, dan pisang melepaskan energi secara bertahap. Dengan demikian, tubuh merasa kenyang lebih lama dan kadar gula darah tetap stabil.
“Karbohidrat kompleks lebih baik dikonsumsi karena indeks glikemiknya lebih rendah dan lebih mengenyangkan,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tren diet rendah karbohidrat secara ekstrem juga tidak selalu menguntungkan. Tubuh tetap membutuhkan asupan karbohidrat yang cukup untuk menjaga keseimbangan hormon dan metabolisme.
“Diet yang kurang karbohidrat bisa meningkatkan gangguan insulin dan berdampak pada kelelahan serta kualitas tidur,” pungkasnya.
Pola makan modern yang serba praktis kerap mendorong konsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula.
Baca tanpa iklan