Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Indonesia Nomor 2 Dari 10 Negara dengan Jumlah KLB Campak Terbanyak di Dunia

Kewaspadaan campak atau “Measles Alert” kini jadi perhatian global.Berikut 10 negara dengan kasus KLB campak terbanyak di dunia. Indonesia nomer 2.

Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Campak masih jadi masalah kesehatan global termasuk Indonesia.
  • Terakhir, otoritas Kesehatan Australia Barat mengeluarkan peringatan setelah seorang penumpang pesawat dari Jakarta tertular campak
  • Merujuk data WHO, Indonesia menjadi 2 teratas dari daftar 10 negara di dunia dengan kasus luar biasa (KLB) campak terbanyak (Global Measles Outbreaks).

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kewaspadaan campak atau “Measles Alert” kini jadi perhatian global.

Baru-baru ini, Otoritas Kesehatan Australia Barat mengeluarkan peringatan tersebut setelah seorang penumpang pesawat dari Jakarta tanggal 7 Februari 2026 dan sampai ke Perth tanggal 8 Februari 2026 dilaporkan positif campak.

Baca juga: Australia Barat Laporkan Kasus Campak dengan Riwayat Penerbangan dari Jakarta, Ini Langkah Kemenkes

Atas peristiwa itu, campak masih jadi masalah kesehatan global termasuk Indonesia.

Center of Diseases Control dan Prevention atau CDC Amerika Serikat pada 11 Februari 2026 merilis daftar 10 negara di dunia dengan kasus luar biasa (KLB) campak terbanyak (Global Measles Outbreaks) yang merujuk data WHO.

Rekomendasi Untuk Anda

Top 10 countries with measles outbreaks didasarkan pada data pengawasan bulanan sementara yang dilaporkan kepada WHO per Januari 2026.

Baca juga: Menkes Waspadai Ancaman Campak Usai Banjir Sumatera, Vaksinasi Digencarkan di Lokasi Pengungsian

Data yang tercantum mencakup periode Juli 2025 - Desember 2025.

Berikut 10 negara dengan kasus KLB campak terbanyak di dunia:

  • 1.       Yaman – 11.288 kasus
  • 2.       Indonesia – 10.744 kasus
  • 3.       India – 9.666 kasus
  • 4.       Pakistan – 7.361 kasus
  • 5.       Angola – 4.843 kasus
  • 6.       Republik Demokratik Rakyat Laos – 3.167 kasus
  • 7.       Meksiko – 2.846 kasus
  • 8.       Nigeria – 2.755 kasus
  • 9.       Afghanistan – 2.668 kasus
  • 10.   Mongolia – 2.551 kasus

Cakupan Imunisasi Disorot

Bidan Desa Yudha Purwanidyah (kanan) menyuntikan vaksin kepada balita saat imunisasi di Posyandu Balai Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis (2/2/2023). Imunisasi tersebut dilakukan sebagai antisipasi untuk meminimalisir anak dari dampak terpapar campak. Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengimbau para orang tua untuk segera membawa putra-putrinya melakukan imunisasi terutama untuk imunisasi campak. Baik melalui posyandu, puskesmas atau bisa dilakukan di sekolah dasar (SD) secara gratis. SURYA/PURWANTO
Bidan Desa Yudha Purwanidyah (kanan) menyuntikan vaksin kepada balita saat imunisasi di Posyandu Balai Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Kamis (2/2/2023). Imunisasi tersebut dilakukan sebagai antisipasi untuk meminimalisir anak dari dampak terpapar campak. Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengimbau para orang tua untuk segera membawa putra-putrinya melakukan imunisasi terutama untuk imunisasi campak. Baik melalui posyandu, puskesmas atau bisa dilakukan di sekolah dasar (SD) secara gratis. SURYA/PURWANTO (SURYA/SURYA/PUR)

Pakar kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, dari data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia perlu memberi perhatian penuh pada pengendalian penyakit campak termasuk pula meningkatkan cakupan imunisasi di tanah air.

Menurutnya, meningkatnya kasus campak di Indonesia berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir.

Disebutkan, cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia pernah mencapai 92 persen pada 2018, namun turun menjadi hanya 87,8 persen pada 2023.

Cakupan imunisasi campak-rubela (MR) dosis pertama (MR1) dan kedua (MR2) juga masih jauh dari target 95 persen untuk membentuk kekebalan kelompok.

Pada 2024, cakupan MR1 sebesar 92 persen dan MR2 sebesar 82,3 persen.

“Tren ini berimbas langsung pada meningkatnya kasus campak,” tutur dia kepada Tribunnews.com, Senin (23/2).

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas