Semangat Hidup Lubna 4 Kali Operasi Kanker, Tuntaskan Trail Running 9 Jam Lintasi Gunung
Lubna Hasan Syihab, penyintas kanker nasofaring. Ia yang pertama kali didiagnosis pada 2008 saat usianya baru 27 tahun.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Semangat Lubna Hasan Syihab tetap menyala meski mengidap kanker nasofaring
- Trail running melintasi gunung dilakoninya meski masih merasakan efek pengobatan
- Pendengarannya berkurang akibat operasi dan radiasi. Suaranya agak sengau. Kadang proses menelan terganggu dan harus dibantu air. Namun ia tak menjadikan itu alasan berhenti
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Siapa sangka, perempuan yang sudah empat kali operasi kanker, lima kali kemoterapi, dan radioterapi ini justru memilih menaklukkan gunung.
Perempuan itu bernama Lubna Hasan Syihab, penyintas kanker nasofaring. Ia yang pertama kali didiagnosis pada 2008 saat usianya baru 27 tahun.
Awalnya, ia hanya ingin mencoba sesuatu yang baru pada 2022. Ia terinspirasi naik gunung, lalu mengenal trail running, lari di bukit dan pegunungan, bukan di aspal.
Ia mulai latihan dengan coach. Pelan-pelan. Konsisten.
Baca juga: Kisah Lubna, Penyintas Kanker Nasofaring yang Penyakitnya Kambuh Lagi Meski Hidup Sehat
Padahal efek pengobatan masih ia rasakan. Pendengarannya berkurang akibat operasi dan radiasi. Suaranya agak sengau. Kadang proses menelan terganggu dan harus dibantu air. Namun ia tak menjadikan itu alasan berhenti.
Yang paling ekstrem? Ia pernah menyelesaikan lomba trail running selama 9 jam 42 menit.
“Pas saya menjalani mimisan amat menariknya sebenarnya justru pada saat saya sedih lagu surprise itu pas lari walaupun berat, yang paling berat itu kemarin baru bagus, akhirnya itu 9 jam 42 menit,"ungkapnya dalam Lets talk Live dalam Rangka World Cancer Day di akun instagram @rscm.kencana, Rabu (25/2/2026).
Sembilan jam lebih di jalur gunung bukan perkara ringan. Pasti lelah. Pasti ada rasa ingin berhenti.
Namun di tengah trek, ia tidak memikirkan rasa sakitnya. Ia memikirkan orang lain.
“Selama trek itu guru saya memikirkan, pasti ada orang yang akan inspirasi dengan langkah saya ini. Pasti ada,"lanjutnya.
Kalimat itu yang membuatnya terus melangkah.
Lubna sadar dirinya penyintas kanker. Ia tahu banyak orang dengan kondisi serupa mungkin sedang merasa takut bergerak, takut mencoba hal baru, takut tubuhnya tidak mampu.
Karena itu ia memilih berlari bukan sekadar untuk dirinya sendiri.
Ia ingin menunjukkan bahwa penyintas kanker tetap bisa aktif.
Baca tanpa iklan