Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Pemerintah Didorong Optimalkan Pendekatan Pengurangan Risiko Guna Tekan Prevalensi Perokok

Pemerintah dinilai perlu mengoptimalkan pendekatan pengurangan risiko sebagai strategi menekan prevalensi perokok di Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Pemerintah Didorong Optimalkan Pendekatan Pengurangan Risiko Guna Tekan Prevalensi Perokok
Tribunnews.com/Abdi Ryanda Shakti
ANGKA PEROKOK - Pemerintah dinilai perlu mengoptimalkan pendekatan pengurangan risiko sebagai strategi menekan prevalensi perokok di Indonesia. 
Memuat video…

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah perlu mengoptimalkan pendekatan pengurangan risiko untuk menekan prevalensi perokok, dengan strategi berbasis sains agar kebijakan kesehatan lebih efektif.
  • Garindra Kartasasmita, menegaskan temuan BRIN menunjukkan rokok elektronik memiliki risiko lebih rendah, sekaligus menekankan pentingnya riset berkelanjutan untuk melawan hoaks.
  • Peneliti BRIN, Prof. Bambang Prasetya, menjelaskan riset menunjukkan produk tembakau alternatif memiliki kadar toksikan lebih rendah.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu mengoptimalkan pendekatan pengurangan risiko sebagai strategi menekan prevalensi perokok di Indonesia.

Langkah ini penting agar kebijakan kesehatan tidak hanya berfokus pada larangan, tetapi juga menyediakan alternatif yang lebih rendah risiko bagi masyarakat.

Dengan strategi berbasis sains, pemerintah dapat memperkuat upaya perlindungan kesehatan publik sekaligus mengurangi beban penyakit akibat rokok.

Pendekatan pengurangan risiko juga relevan dengan tren global, di mana banyak negara berhasil menurunkan angka perokok dengan mendorong peralihan ke produk tembakau alternatif.

Optimalisasi kebijakan ini akan membantu Indonesia mencapai target kesehatan nasional tanpa mengabaikan realitas sosial bahwa jutaan orang masih bergantung pada produk tembakau.

Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK), Garindra Kartasasmita, menyatakan bahwa temuan BRIN menambah bukti ilmiah bahwa rokok elektronik memiliki risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menekankan pentingnya riset berkelanjutan agar masyarakat memperoleh informasi komprehensif dan tidak terjebak hoaks yang menyamakan risiko rokok alternatif dengan rokok biasa.

Garindra menegaskan bahwa kajian ilmiah BRIN menunjukkan pendekatan pengurangan risiko memiliki potensi nyata dalam menekan dampak kesehatan akibat kebiasaan merokok.

Ia berharap pemerintah dapat memaksimalkan strategi berbasis sains untuk menurunkan prevalensi perokok.

Menurut Garindra, Indonesia sebaiknya mencontoh negara maju yang telah berhasil menekan angka perokok dengan mendorong peralihan ke produk tembakau alternatif.

“Saya berharap pemerintah dapat mengikuti banyak negara maju lainnya yang telah berhasil menurunkan prevalensi perokok, dengan menggunakan produk tembakau alternatif sebagai alat utama,” ujarnya, dikutip Jumat (6/2/2026).

Beberapa waktu lalu, Peneliti BRIN, Prof. Bambang Prasetya pernah menekankan bahwa riset merupakan fondasi penting dalam memahami karakteristik dan profil risiko produk tembakau alternatif.

Berdasarkan penelitian BRIN, produk tembakau alternatif memiliki profil toksikan lebih rendah dibandingkan rokok karena tidak melibatkan proses pembakaran yang menghasilkan TAR.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian BRIN berjudul Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants, yang menunjukkan rokok elektronik memiliki kadar toksikan lebih rendah berdasarkan pengujian sembilan toksikan utama yang direkomendasikan WHO.

Prof. Bambang menambahkan, riset diperlukan sebagai basis data kepatuhan dalam pembuatan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk tembakau, guna menjembatani kepentingan ekonomi dan kesehatan.

Selain itu, penelitian BRIN pada produk tembakau yang dipanaskan menunjukkan potensi penurunan paparan zat berbahaya.

“Studi pada produk tembakau yang dipanaskan menunjukkan secara konsisten penurunan zat toksikan berisiko terhadap kesehatan hingga 80–90 persen dibandingkan rokok,” jelas Prof. Bambang, beberapa waktu lalu.

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas