98 Persen Pasien Gagal Ginjal Langsung Hemodialisis, Edukasi CAPD Minim
Hampir 98 persen pasien gagal ginjal di Indonesia langsung masuk ke hemodialisis, sementara pilihan terapi lain tak dijelaskan secara utuh ke pasien.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Hampir 98 persen pasien gagal ginjal di Indonesia langsung masuk ke hemodialisis (HD), sementara pilihan terapi lain sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien.
- Kurangnya pemberian edukasi oleh dokter mengakibatkan banyak pasien tetap menjalani HD karena itu satu-satunya terapi yang mereka ketahui.
- CAPD memungkinkan pasien menjalani terapi mandiri di rumah dengan risiko infeksi nosokomial lebih rendah dan mengurangi risiko penularan penyakit seperti hepatitis.
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Hampir 98 persen pasien gagal ginjal di Indonesia langsung masuk ke hemodialisis (HD), sementara pilihan terapi lain seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien.
Kondisi ini disoroti oleh Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir.
Ia mengatakan banyak pasien gagal ginjal di Indonesia yang belum mengetahui pilihan terapi lain setelah bertahun-tahun menjalani hemodialisis.
"Bagi kami di KPCDI, ini bukan sekadar soal metode terapi, tetapi soal hak pasien untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan menentukan pilihan terapinya sendiri,” ujar Tony ditulis di Jakarta, Sabtu (14/3).
Minim Edukasi soal CAPD
Meski sudah dijamin oleh sistem kesehatan nasional, pemanfaatan CAPD di Indonesia masih rendah. Berbeda dengan negara lain, seperti Malaysia, edukasi mengenai pilihan terapi dialisis diberikan sejak awal, sedangkan di Indonesia edukasi serupa masih jarang.
Akibatnya, banyak pasien tetap menjalani HD karena itu satu-satunya terapi yang mereka ketahui.
Baca juga: Penyebab Gagal Ginjal pada Anak dan Remaja: Cegah dari Gaya Hidup!
“Banyak pasien gagal ginjal baru mengetahui CAPD setelah menjalani hemodialisis, menunjukkan edukasi mengenai pilihan terapi belum diberikan secara lengkap sejak awal,” ucapnya.
CAPD memungkinkan pasien menjalani terapi mandiri di rumah dengan risiko infeksi nosokomial lebih rendah dan mengurangi risiko penularan penyakit seperti hepatitis, tanpa perlu penusukan pembuluh darah berulang seperti pada hemodialisis.
Karena itu, edukasi pilihan terapi harus menjadi bagian dari pelayanan standar, agar pasien gagal ginjal dapat memahami dan memilih terapi yang sesuai.
Hal ini dirasakan lebih dari sepuluh tahun, Rudi (bukan nama sebenarnya) pasien yang rutin menjalani hemodialisis dua kali seminggu.
Baca juga: Warga Kaget saat Berobat BPJS PBI Dinonaktifkan, Pasien Gagal Ginjal Tak Bisa Cuci Darah Rutinan
Dia sering menghadapi antrean panjang dan jarum yang menusuk pembuluh darah, sambil khawatir kondisi kesehatannya memengaruhi pekerjaan.
Ia mengira hemdialisis adalah satu-satunya cara bertahan hidup karena tidak mendapat informasi tentang terapi lain.
Namun setelah berdiskusi dengan sesama pasien, Rudi mengetahui CPAD atau metode dialisis mandiri di rumah dengan kontrol bulanan.
Baca tanpa iklan