Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Dokter Muda di Cianjur Meninggal Diduga Campak, Pakar: Ada Risiko Fatal Jarang Disadari Dewasa

Dokter muda di Cianjur meninggal diduga campak. Pakar epidemiologi ingatkan risiko fatal & komplikasi berat yang incar usia dewasa.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Dokter Muda di Cianjur Meninggal Diduga Campak, Pakar: Ada Risiko Fatal Jarang Disadari Dewasa
freepik
ALARM CAMPAK — Ilustrasi potret tenaga kesehatan (nakes) muda bermasker di rumah sakit. Pakar epidemiologi memperingatkan adanya risiko komplikasi fatal yang jarang disadari oleh kelompok usia produktif. 

Ringkasan Berita:
  • Kabar duka datang dari RSUD Cimacan, Cianjur, setelah seorang dokter muda (26) meninggal dunia diduga akibat komplikasi berat infeksi campak
  • Tragedi ini menjadi peringatan bahwa campak bukan sekadar penyakit anak. Pakar epidemiologi menyebut risiko mortalitas justru meningkat tajam pada usia di atas 20 tahun. 
  • Tanpa memori imun spesifik, virus ini dapat memicu komplikasi fatal seperti pneumonia hingga radang otak (ensefalitis), terutama bagi kelompok produktif dan tenaga kesehatan.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Kabar meninggalnya seorang dokter muda berinisial AMW (26) yang tengah menjalani program internship (magang medis) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cimacan, Cianjur, Jawa Barat, menjadi sorotan tajam bagi dunia kesehatan publik.

Korban dilaporkan mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 26 Maret 2026.

Dugaan kuat menyebutkan bahwa penyebab kematian adalah komplikasi berat akibat infeksi campak—sebuah penyakit yang sering kali disalahpahami sebagai gangguan kesehatan ringan.

Bukan Sekadar Penyakit Ringan pada Anak

Peristiwa memilukan ini menjadi pengingat keras bahwa campak memiliki sisi fatal yang nyata, terutama jika menyerang orang dewasa.

Dokter, peneliti Global Health Security, sekaligus pakar epidemiologi Dicky Budiman menegaskan bahwa persepsi masyarakat selama ini perlu diluruskan.

“Jadi sekali lagi, campak bukan sekadar penyakit anak ringan. Ini penyakit serius ya, penyakit berat,” ujar Dicky saat dihubungi Tribunnews, Minggu (29/3/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, banyak masyarakat masih memiliki persepsi keliru bahwa orang dewasa secara alami lebih kebal terhadap campak. Padahal, risiko komplikasi justru bisa jauh lebih tinggi pada usia dewasa jika individu tersebut tidak memiliki kekebalan spesifik terhadap virus tersebut.

“Dan dewasa ya, risiko komplikasi lebih tinggi dibanding anak sehat. Karena itulah mortalitas atau angka kematian meningkat, terutama pada usia lebih dari 20 tahun,” jelas Dicky.

Baca juga: Lindungi Anak di Media Sosial, IDAI: PP TUNAS Perlu Dukungan Peran Orang Tua

Bahaya Komplikasi: Pneumonia hingga Radang Otak

Infeksi campak dapat berkembang menjadi kondisi yang sangat serius melalui berbagai komplikasi.

Salah satu penyebab kematian paling sering adalah Pneumonia—infeksi bakteri atau virus yang memicu peradangan pada paru-paru.

Selain itu, pasien juga berisiko mengalami Ensefalitis atau radang otak, diare berat yang memicu dehidrasi, hingga infeksi sekunder.

Kondisi ini diperparah oleh mekanisme virus campak yang mampu menekan sistem imun tubuh secara drastis.

Akibatnya, tubuh menjadi jauh lebih rentan terhadap infeksi tambahan yang berpotensi fatal.

Dalam skala global, angka kematian akibat campak di negara berkembang, termasuk Indonesia, tercatat bisa mencapai rentang 1 hingga 5 persen.

Mengapa Orang Dewasa Tetap Bisa Tertular?

Dicky menjelaskan bahwa orang dewasa tetap memiliki risiko tertular karena beberapa faktor kunci, di antaranya belum pernah mendapatkan vaksinasi lengkap atau belum pernah terinfeksi sebelumnya sehingga tidak memiliki antibodi alami.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas