Tantangan MBG di Daerah 3T, Pakar Kesehatan Ingatkan Distribusi hingga Risiko Gizi Tak Seimbang
Program MBG di i wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dinilai berpotensi banyak tantangan termasuk distribusi hingga risiko kecukupan gizi.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan, siswa-siswa sekolah yang berada di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) akan menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan bentuk bahan makan kering atau panganan yang tidak memerlukan pengolahan kompleks.
BGN kata Nanik telah mengatur distribusi MBG berdasarkan jenis dan ketahanannya.
"Untuk wilayah 3T kami menerapkan pendekatan berbeda, siswa diberikan makanan kering, bukan makanan olahan," kata dia di Jakarta, Selasa (31/3).
Contohnya seperti susu, buah, roti, dan bahan pangan lain yang lebih mudah disimpan serta didistribusikan.
Nanik mengungkapkan, perbedaan menu ini karena adaptasi keterbatasan infrastruktur, akses distribusi, serta fasilitas penyimpanan di daerah 3T.
"Kami tegaskan seluruh skema distribusi ini tetap mengacu pada standar gizi nasional serta prinsip keamanan pangan," tegas Nanik.
Sementara untuk anak sekolah di wilayah lain tetap berjalan seperti biasa, yakni makanan fresh food dengan skema distribusi lima hari.
Kemudian untuk kelompok seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) mekanisme pendistribusiannya seperti biasa sampai hari Sabtu.
(Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi/Rina Ayu)