Kemenkes: Hantavirus di Indonesia Mayoritas Berasal dari Tikus Rumah
Strain ini berbeda dengan andes virus seperti yang terkonfirmasi dalam wabah kapal pesiar mewah MV Hondius di Samudra Atlantik.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Kemenkes menyatakan kasus hantavirus Indonesia mayoritas disebabkan Seoul virus yang ditularkan tikus rumah terinfeksi sejak 2024.
- Sebanyak 23 kasus terkonfirmasi ditemukan sembilan provinsi, dengan tiga kematian akibat komplikasi HFRS berat nasional.
- Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak tikus, serta menggunakan pelindung saat membersihkan area terkontaminasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan kasus hantavirus di Indonesia mayoritas disebabkan oleh strain Seoul virus (SEOV) yang ditularkan melalui tikus rumah.
Strain ini berbeda dengan andes virus seperti yang terkonfirmasi dalam wabah kapal pesiar mewah MV Hondius di Samudra Atlantik.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman mengatakan, tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus atau tikus got menjadi reservoir utama virus tersebut di Indonesia.
Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026, Kemenkes mencatat terdapat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi di Indonesia dengan tiga kasus kematian.
Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
“Seluruh kasus konfirmasi tersebut mengarah pada Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang disebabkan Seoul virus,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Aji menjelaskan bahwa, temuan Hantavirus pada reservoir atau hewan pembawa, yakni tikus, telah ditemukan di 29 provinsi. Temuan tersebut berasal dari studi Rikhus Vektora oleh Balai Litbangkes Kelas I Salatiga.
“Faktor risiko penularan penyakit ini berkaitan dengan kontak manusia terhadap tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan ekskresi dan sekresi hewan,” jelas Aji.
Mengenal Seoul Virus
Mengutip website Kemenkes, penularan penyakit hantavirus terjadi melalui kontak langsung dengan reservoir utama, ekskresinya (saliva, urin, feses) yang mengenai kulit yang luka atau membrane mukosa pada mata, mulut, dan hidung, maupun secara aerosol (debu atau partikel halus yang terkontaminasi).
Karena hidup dekat dengan manusia, risiko penularan Seoul virus dinilai lebih tinggi dibanding penyakit zoonosis lain yang berasal dari satwa liar atau kawasan hutan.
Infeksi Seoul virus umumnya menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri punggung dan perut, mual, mata kemerahan, hingga ruam.
Pada kondisi lebih berat, penyakit dapat menyebabkan gangguan ginjal, perdarahan saluran pencernaan, gangguan pernapasan, hingga gangguan saraf.
Baca juga: Otoritas Melacak 29 Penumpang yang Tinggalkan Kapal Pesiar setelah Kasus Kematian Pertama Hantavirus
Baca tanpa iklan