Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

Studi Terbaru, Enam dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Lebih Memilih Swadiagnosis Saat Sakit

 Fenomena swadiagnosis atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kian menjadi perhatian serius di dunia kesehatan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
zoom-in Studi Terbaru, Enam dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Lebih Memilih Swadiagnosis Saat Sakit
HO/IST/istimewa
RISET SWADIAGNOSIS ANAK MUDA - Studi Health Collaborative Center (HCC)  menemukan hampir 60 persen anak muda di bawah 40 tahun melakukan swadiagnosis terlebih dahulu saat sakit sebelum ke dokter. Penelitian Maret–Mei 2026 ini melibatkan 448 responden dari berbagai kota besar di Indonesia. Menurut Ketua Peneliti HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, fenomena ini telah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban, di mana internet danartificial intelegence (AI) kerap menjadi “dokter pertama” sebelum konsultasi medis. 

 

Ringkasan Berita:
  • Studi HCC menemukan 6 dari 10 anak muda urban Indonesia melakukan swadiagnosis saat sakit sebelum ke dokter
  • Internet, AI, dan media sosial menjadi sumber utama informasi kesehatan, bahkan sebagian langsung melakukan swamedikasi
  • Fenomena ini menunjukkan tantangan literasi kesehatan digital di tengah banjir informasi online.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Fenomena swadiagnosis atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kian menjadi perhatian serius di dunia kesehatan.


Swadiagnosis (self-diagnosis) adalah tindakan mengidentifikasi gangguan kesehatan fisik maupun mental tanpa keahlian medis, biasanya berdasarkan pencarian internet, pengalaman pribadi, atau informasi tidak resmi.

Baca juga: Pemanfaatan AI Semakin Meluas, Kini Dipakai untuk Diagnosis Pasien Kanker Payudara

 

Studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) mengungkap hampir 60 persen anak muda di bawah usia 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu saat mengalami keluhan kesehatan, tanpa langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Rekomendasi Untuk Anda

Penelitian yang dilakukan pada Maret–Mei 2026 ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan melibatkan 448 responden dari berbagai kota besar, seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Ketua peneliti sekaligus Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menilai fenomena ini bukan sekadar perubahan perilaku digital, melainkan telah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban.

“Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujar Ray di Jakarta, Selasa (13/5/2026).

STETOSKOP DOKTER - Ilustrasi stetoskop yang diunduh dari Freepik.com, Kamis (17/4/2025).
STETOSKOP DOKTER - Ilustrasi stetoskop yang diunduh dari Freepik.com, Kamis (17/4/2025). (Freepik.com/Dragana Gordic)

Berdasarkan studi bersama research associate Yoli Farradika, Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, disusul situs kesehatan dan berbagai konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari meliputi gangguan pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, hingga gangguan psikologis.

Fenomena ini berkaitan dengan istilah cyberchondria, yakni meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet.

Penelitian juga mencatat 36 persen responden melakukan swamedikasi tanpa konsultasi dokter, sementara 27 persen mengabaikan resep medis karena bertentangan dengan informasi dari internet.

Baca juga: Studi HCC: Satu dari 3 orang Indonesia Menolak Ibu Menyusui di Tempat Umum

Menariknya, 57 persen hasil swadiagnosis ternyata sesuai dengan diagnosis dokter. Namun, Dr. Ray menegaskan hal ini tidak berarti swadiagnosis sepenuhnya akurat.

“Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu,” jelasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas