Mengenal Wabah Ebola Virus Bundibugyo yang Dianggap Berbahaya oleh WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola di Kongo dan Uganda menjadi Darurat Kesehatan karena strain Bundibugyo. Apa itu?
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Febri Prasetyo
Wabah kali ini dinilai "luar biasa" dan memicu kekhawatiran besar lantaran disebabkan oleh strain virus Bundibugyo.
Berbeda dengan strain Ebola-Zaire yang mendominasi sebagian besar wabah sebelumnya dan sudah memiliki vaksin serta terapi efektif.
Strain Bundibugyo saat ini belum memiliki vaksin atau obat terapeutik khusus yang disetujui.
"Sangat disayangkan, Bundibugyo memiliki penangkal medis teruji yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Ebolavirus Zaire, di mana vaksin sangat efektif dalam mengendalikan wabah," ujar Amanda Rojek, Profesor Rekanan Kedaruratan Kesehatan di Institut Ilmu Pandemi, Universitas Oxford kepada Reuters.
Ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang melanda RD Kongo sejak virus mematikan tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1976.
Sepanjang sejarah, strain Bundibugyo baru tercatat memicu dua wabah, yaitu pada tahun 2007 dan 2012.
Baca juga: Ebola Bukan Sekadar Penyakit, Pakar Ungkap Efek Kerusakan Lingkungan
Penyebaran lintas negara kini telah terdokumentasi dengan jelas.
Di RD Kongo, wilayah yang paling parah terdampak adalah Provinsi Ituri di bagian timur.
Hingga Sabtu (16/5/2026), di Ituri saja telah tercatat 80 kasus kematian suspek, 8 kasus konfirmasi laboratorium, dan 246 kasus suspek yang tersebar di tiga zona kesehatan, yakni Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.
Kasus kesembilan dikonfirmasi di Kota Goma, Kongo timur, wilayah yang saat ini dikuasai oleh kelompok pemberontak M23.
Selain itu, satu kasus konfirmasi juga ditemukan di ibu kota RD Kongo, Kinshasa, dari seorang warga yang baru kembali dari Ituri.
Sementara itu di Uganda, otoritas kesehatan mengonfirmasi dua kasus yang terpisah di ibu kota Kampala.
Kasus-kasus tersebut dibawa oleh pelancong yang datang dari RD Kongo, di mana salah satu dari pasien tersebut dilaporkan telah meninggal dunia.
Wabah ini diperkirakan telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa minggu.
Kasus pertama yang diketahui dialami oleh seorang pria berusia 59 tahun yang menunjukkan gejala pada 24 April dan meninggal tiga hari kemudian.
Namun, otoritas kesehatan baru mengetahui adanya wabah ini pada 5 May setelah ramainya laporan di media sosial.
Keterlambatan deteksi ini membuat pelacakan kontak menjadi jauh lebih menantang, terlebih wilayah Kongo timur tengah dilanda konflik bersenjata yang mempersulit akses medis.
(Tribunnews.com/Whiesa)