Mengapa Hormon Bisa Memperburuk Gejala ADHD pada Wanita?
Perubahan hormon seperti estrogen dapat memperburuk gejala ADHD pada wanita, terutama saat menstruasi, kehamilan, dan menopause.
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Perubahan hormon seperti estrogen dapat memperburuk gejala ADHD pada wanita, terutama saat menstruasi, kehamilan, dan menopause.
- Penurunan estrogen memengaruhi dopamin, sehingga konsentrasi, emosi, dan toleransi stres bisa menurun.
- Rutinitas sehat, olahraga, terapi hormonal, dan dukungan psikologis dapat membantu mengelola gejala ADHD pada wanita.
TRIBUNNEWS.COM - Pada waktu-waktu tertentu dalam sebulan, atau pada fase kehidupan tertentu, banyak wanita merasa lebih sulit berkonsentrasi, menghadapi stres, dan mengendalikan emosi—sehingga perubahan suasana hati, kegelisahan, dan kelelahan meningkat.
Mengutip DPA International, hormon sering memainkan peran besar, terutama pada wanita dengan Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
Pada pria, gangguan perkembangan saraf ini biasanya didiagnosis sejak masa kanak-kanak, tetapi pada wanita sering kali jauh lebih terlambat, atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali.
Salah satu alasannya adalah karena wanita lebih sering mengalami gejala kurang perhatian (inattentive), yang lebih sulit dikenali dibanding gejala hiperaktif. Selain itu, gejala mereka cenderung lebih berfluktuasi, misalnya selama siklus menstruasi, kehamilan, dan masa transisi menopause.
Pada wanita dengan ADHD tipe inattentive, perubahan hormon yang relatif kecil bisa memberi dampak lebih besar dibanding wanita tanpa gangguan tersebut. Ledakan emosi, penurunan konsentrasi, dan kemampuan mengelola stres menjadi lebih intens.
Hormon seks wanita menjadi faktor utama, terutama estrogen. Hormon ini tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memengaruhi neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin, yang membantu mengatur konsentrasi, motivasi, suasana hati, dan kestabilan emosi.
Baca juga: Fenomena Baru di Korea Selatan: Obat ADHD Diduga Dipakai untuk Tingkatkan Fokus Belajar
Penurunan kadar estrogen—misalnya pada paruh kedua siklus menstruasi, setelah melahirkan, dan saat menopause—dapat mengganggu keseimbangan hormon yang sensitif. Banyak wanita kemudian menjadi lebih sensitif terhadap tekanan emosional.
Menurut psikiater asal Swedia, Lotta Borg Skoglund, yang khusus menangani anak perempuan dan wanita dengan ADHD, gejala pada periode tersebut bisa jauh lebih berat bagi penderita ADHD. Mereka lebih sering mengeluhkan mudah terdistraksi, daya tahan stres yang menurun, emosi lebih intens, dan gangguan tidur yang meningkat.
Untuk memahami bagaimana hormon seperti estrogen memengaruhi gejala ADHD, penting melihat peran dopamin. Kekurangan dopamin membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi, mengendalikan ketegangan batin, dan menyelesaikan tugas.
Para ahli meyakini bahwa penderita ADHD memiliki kadar dopamin lebih rendah dari normal, atau dopamin dalam otak mereka tidak digunakan secara optimal atau terlalu cepat terurai. Hal ini menjelaskan mengapa mereka sering impulsif, mudah terdistraksi, dan lebih rentan mengalami perubahan suasana hati.
Untuk mengatasi masalah ini, pasien ADHD sering diberi obat yang meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin (noradrenalin) di otak. Hal ini dapat meningkatkan konsentrasi, motivasi, dan kestabilan emosi.
“Dopamin membantu mengatur banyak perilaku sehari-hari, termasuk beberapa perilaku yang lebih bermasalah,” kata Borg Skoglund. “Pelepasannya menghasilkan perasaan berenergi dan bahagia.”
Di sinilah hormon seks wanita berperan. Estrogen memengaruhi dopamin dalam berbagai cara: merangsang produksinya, membantu pelepasannya, dan memperlambat pemecahannya.
“Estrogen adalah pendorong dopamin yang sangat kuat,” kata Frank Matthias Rudolph.
Penurunan estrogen sering menurunkan ketersediaan dopamin, yang sangat berdampak pada wanita dengan ADHD, terutama selama siklus menstruasi. Pada paruh pertama siklus, estrogen mendominasi dan mendukung produksi dopamin. Kadarnya menurun pada paruh kedua ketika hormon progesteron meningkat.
Perubahan keseimbangan hormon ini dapat menurunkan ketersediaan dopamin, sehingga banyak wanita menjadi lebih sensitif dan lebih sulit mengatur aktivitas harian.
Kondisi ini meningkatkan risiko Premenstrual syndrome (PMS), dengan gejala seperti mudah marah, cemas, suasana hati depresi, sakit kepala, dan nyeri payudara. Studi menunjukkan PMS jauh lebih sering terjadi pada wanita dengan ADHD.
Bentuk PMS yang lebih berat dan kronis adalah Premenstrual dysphoric disorder (PMDD), yang memengaruhi 3–5 persen wanita usia subur. Ada indikasi bahwa wanita dengan ADHD juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.
Beberapa metode penanganan PMS dan PMDD meliputi obat herbal seperti monk’s pepper, antidepresan SSRI dosis rendah yang meningkatkan serotonin, serta terapi hormonal seperti pil KB atau gel estrogen.
Selama kehamilan, kadar estrogen meningkat tajam, yang juga dapat memengaruhi gejala ADHD pada wanita. Borg Skoglund mengatakan banyak pasien melaporkan merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri, serta khawatir tentang persalinan dan kemampuan menjadi ibu.
Ketika kadar estrogen turun setelah melahirkan, suasana hati depresi lebih sering muncul. Menurut Rudolph, sekitar 10–20 persen wanita secara umum mengalami depresi pascamelahirkan, tetapi beberapa studi menunjukkan angka ini bisa mencapai 60 persen pada wanita dengan ADHD.
Banyak wanita dengan ADHD baru didiagnosis saat perimenopause, yaitu masa transisi alami menuju menopause. Pada fase ini, ovarium menghasilkan lebih sedikit progesteron atau berhenti memproduksinya, sementara kadar estrogen berfluktuasi besar, yang dapat memengaruhi serotonin dan dopamin di otak.
Fluktuasi hormon yang tidak stabil ini dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang lebih kuat, masalah regulasi emosi, dan toleransi stres yang menurun. Beberapa wanita bahkan melaporkan mengalami gejala ADHD saat menopause yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
“Dengan mempertimbangkan kemungkinan kontraindikasi, penting untuk serius mempertimbangkan terapi penggantian hormon bagi wanita-wanita ini,” kata Rudolph.
Selain obat-obatan, olahraga juga dapat membantu, begitu pula latihan pikiran-tubuh seperti Tai chi, Yoga, atau qigong.
“Strategi sehari-hari seperti rutinitas tetap, tidur cukup, olahraga teratur, pola makan sehat, dan perencanaan terstruktur sangat penting terutama selama fase kehidupan dengan gejolak hormon,” ujar Borg Skoglund. Ia juga menambahkan bahwa kelompok dukungan dan edukasi psikologis dapat membantu.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.