Ini Kebiasaan yang Diam-Diam Memperparah Gagal Jantung, dari Mie Instan hingga Stop Obat Sendiri
dr. Dian Yaniarti Hasanah, Sp.JP(K), menegaskan gagal jantung merupakan penyakit kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak pasien gagal jantung merasa kondisinya sudah membaik lalu menghentikan obat sendiri.
Padahal kebiasaan ini justru bisa memicu kondisi memburuk hingga kematian mendadak.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dengan keahlian subspesialis (konsultan) di bidang gagal jantung dr. Dian Yaniarti Hasanah, Sp.JP(K), menegaskan gagal jantung merupakan penyakit kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang.
“Pasien akan merasa baik, merasa enak, bisa berkembali ke masyarakat. Tetapi tidak bisa dihentikan obatnya,” ujar Dian pada talkshow kesehatan virtual, Minggu (24/5/2026).
Menurut dia, salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan gagal jantung adalah rasa bosan pasien karena harus minum banyak obat setiap hari.
“Biasanya tidak pernah minum obat, tiba-tiba harus minum 4 jenis obat. Itu kadang membuat pasien jadi bosan, jenuh,” katanya.
Risiko Tertinggi: Meninggal Mendadak
Dian mengingatkan, pasien gagal jantung tetap berisiko mengalami kematian mendadak meski tampak sehat.
“Kadang-kadang pasien gagal jantung, terutama yang pompa rendah, kelihatan baik-baik saja, tetapi obatnya tidak diminum atau tidak dinaikkan, tiba-tiba sudden death,” ujarnya.
Baca juga: Gejala Gagal Jantung Kerap Disangka Maag dan Kelelahan, Dokter Minta Waspada
Karena itu, kontrol rutin dan kepatuhan terapi menjadi sangat penting.
“Meninggal mendadak adalah risiko tertinggi pada pasien gagal jantung,” kata Dian.
Bukan Obat Tekanan Darah Biasa
Menurut Dian, masih banyak pasien salah paham terhadap obat gagal jantung.
“Pasien juga sering khawatir, dok gimana ginjal saya, minum obat terus,” ujarnya.