Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Kesehatan
LIVE ●

20 Persen Pelajar Konsumsi Tembakau, WHO Desak Putus Siklusnya di Anak Muda

WHO menyerukan pembentukan generasi bebas tembakau untuk memutus rantai ketergantungan pada tembakau dan vape di Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Choirul Arifin
zoom-in 20 Persen Pelajar Konsumsi Tembakau, WHO Desak Putus Siklusnya di Anak Muda
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
USULAN WHO - Petani menyortir tembakau di Gudang Tembakau Empatlima, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (27/12/2023). WHO mendorong Pemerintah RI memasang pelarangan rokok elektronik atau vape, memperbesar peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok, hingga membangun generasi bebas tembakau. 

 

Ringkasan Berita:
  • WHO menyerukan pembentukan generasi bebas tembakau untuk memutus rantai ketergantungan pada tembakau dan vape di Indonesia.
  • Pemerintah didorong memasang pelarangan rokok elektronik atau vape, memperbesar peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok, hingga membangun generasi bebas tembakau.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ancaman kecanduan nikotin pada anak dan remaja kembali menjadi sorotan menjelang Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap 31 Mei.

World Health Organization (WHO) meminta Indonesia mengambil langkah lebih tegas untuk melindungi generasi muda dari paparan tembakau dan nikotin.

Termasuk mendorong pelarangan rokok elektronik atau vape, memperbesar peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok, hingga membangun generasi bebas tembakau.

Seruan ini muncul di tengah tingginya penggunaan produk tembakau dan nikotin pada usia muda.

Data Global School Health Survey 2023 menunjukkan, sebanyak 20 persen pelajar Indonesia usia 13–17 tahun menggunakan produk tembakau dan 12 persen menggunakan rokok elektronik.

Angka tersebut menjadi perhatian karena kelompok usia remaja dinilai paling rentan mengalami kecanduan nikotin jangka panjang.

Rekomendasi Untuk Anda

WHO menilai tren penggunaan vape pada remaja tidak terjadi begitu saja. Produk-produk tersebut disebut dirancang agar menarik bagi anak muda melalui rasa, desain, hingga strategi pemasaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

"Rasa seperti buah dan permen, kemasan berwarna-warni, dan desain yang ramping sengaja digunakan untuk menarik pengguna muda dan membuat produk-produk ini tampak kurang berbahaya," tulis WHO dalam siaran pers, Sabtu (30/5/2026).

Tak hanya itu, promosi melalui media sosial dan influencer juga disebut memperkuat normalisasi penggunaan vape pada kelompok usia muda.

Baca juga: Industri Tembakau Padat Karya Perlu Dukungan Kebijakan yang Seimbang untuk Cegah PHK

Padahal, menurut WHO, dampak nikotin pada masa remaja tidak sederhana. Paparan nikotin disebut dapat mengganggu perkembangan otak dan meningkatkan risiko kecanduan berkepanjangan.

WHO juga mengingatkan bahwa vape tidak selalu menjadi alternatif yang lebih aman.

"Bukti ilmiah menunjukkan vape bisa menjadi pintu gerbang menuju merokok dan menyebabkan penggunaan ganda, meningkatkan risiko kesehatan daripada menguranginya," tulis WHO.

Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. N. Paranietharan, mengatakan perlindungan terhadap generasi muda harus menjadi prioritas.

"Rokok elektronik dan produk nikotin lainnya berbahaya. Produk-produk ini sengaja dirancang untuk menarik kaum muda dan menciptakan kecanduan," kata Paranietharan. 

Baca juga: Berkaca dari Turki, DPR Soroti Minimnya Payung Hukum Bagi Petani Tembakau Nasional

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas