Sejalan Arahan Presiden Prabowo, Mentan Amran Tancap Gas Hilirisasi Pertanian
Kementan gelontorkan Rp 9,5 triliun percepat hilirisasi tujuh komoditas pertanian strategis.
Editor:
Content Writer
TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat hilirisasi sektor pertanian sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan hilirisasi sebagai kunci penciptaan lapangan kerja berkualitas.
“Hilirisasi adalah keniscayaan. Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia, terutama petani,” ujar Amran dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Jumat (20/3/2026).
Amran menambahkan, selama ini, sebagian komoditas pertanian Indonesia masih dijual dalam bentuk bahan baku sehingga margin keuntungan terbesar justru dinikmati oleh negara pengolah.
Karena itu, paradigma tersebut harus diubah melalui hilirisasi yang terstruktur dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Hari ini kita ubah paradigma. Petani tidak boleh hanya menjual hasil panen, tetapi harus masuk dalam rantai industri. Kita bangun dari hulu sampai hilir agar nilai tambah meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” terangnya.
Baca juga: Dukung Swasembada Jagung, Kementan Siapkan Benih Gratis hingga 1 Juta Hektare
Mengacu pada arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya industrialisasi berbasis sumber daya alam, Amran menilai sektor pertanian memiliki posisi strategis sebagai fondasi hilirisasi nasional.
Ia pun menyoroti konsep pohon industri sebagai pendekatan dalam pengembangan komoditas pertanian.
“Setiap komoditas punya banyak turunan. Kelapa bisa menjadi puluhan produk, kakao menjadi berbagai olahan, singkong bisa diolah menjadi tepung hingga bioetanol. Inilah yang kita sebut pohon industri,” jelas Amran.
Sebagai langkah konkret, Kementan menjalankan program hilirisasi perkebunan dengan alokasi anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk pengembangan tujuh komoditas strategis dengan target 870 ribu hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027.
Program ini difokuskan pada komoditas, seperti kelapa, kakao, kopi, jambu mete, lada, dan pala, sebagai upaya memperkuat ketersediaan bahan baku sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri.
“Kami rancang hilirisasi melalui replanting dan tanam baru di berbagai komoditas tersebut. Dengan penguatan ini, kami optimistis mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian,” terang Amran.
Baca juga: Kementan Gelar Talkshow Tani On Stage, Ajak Masyarakat Belanja Pangan Tanpa Panik
Amran menegaskan, hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi desa.
“Kalau industri pengolahan dibangun di sentra produksi, maka lapangan kerja tercipta di desa. Anak muda tidak hanya bertani, tetapi juga bisa masuk ke industri pengolahan, pemasaran, hingga ekspor. Ini masa depan pertanian kita,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya potensi komoditas unggulan Indonesia yang selama ini belum dioptimalkan melalui hilirisasi.
Baca tanpa iklan