Dulu Ramuan Bumbunya Dari Tamu, Sekarang Sate Daecan Jadi Idola
Saat daging sate masuk mulut, rasa gurih langsung memenuhi mulut. Bumbunya ringan, sesuai dengan potongan dagingnya yang kecil-kecil.
Editor:
Anita K Wardhani
Fernando, seorang warga Cilandak, Jakarta Selatan, merupakan pelanggan tetap Sate Sambas. Dari awalnya coba-coba, Fernando ketagihan sate daecan. Menurut dia, sate daecan punya rasa gurih dan asin yang pas hingga cocok sebagai camilan.
Kholil meramu sate daecan secara tidak sengaja sejak tahun 1998. Idenya datang dari pelanggannya, seorang warga negara Jepang. Tak heran nama sate ini pun kejepang-jepangan. Kholil bercerita, pelanggan asal Jepang itu selalu meracik sate sendiri.
Sate bikinan dia, kata Kholil, polos tanpa bumbu kacang, apalagi, kecap. Sebagai perasa, hanya diberi tambahan garam. Kholil pun mencoba meniru sate bikinan pelanggannya, namun dengan tambahan bumbu.
Sayangnya, generasi ketiga pemilik kedai ini enggan menjelaskan ramuannya. Dia hanya menunjukkan bumbu dapur kering yang diikatkan pada tusuk sate. Bumbu itu lalu diolah dicairkan dan ditempatkan dalam botol. Bumbu itu yang kemudian dioles pada sate.
Lain lagi cerita sate telur. Dulu saat generasi pertama masih berjualan, sate telur tidak menggunakan uritan melainkan racikan bumbu dan kuning telur yang dicetak menggunakan plastik. Karena menganggap proses itu terlalu ribet, Kholil pun menggunakan uritan. Ternyata, modifikasi ala Kholil mendapat respons baik. Sate ini cuma satu-satunya di Jakarta, tidak ada yang menjual sate sejenis, ujar dia.
Harga Sate Sambas memang lebih mahal dibanding kebanyakan sate madura. Setusuk sate telur dibanderol Rp 3.000. Sedang sate daecan dan sate ayam biasa harganya Rp 2.500 per tusuk. Jika ingin menambah lontong, harganya Rp 5.000 per potong. Untuk minuman, Anda bisa memesan teh botol seharga Rp 5.000 per botol.
Sate Sambas
Jalan Sambas IX, Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Koordinat GPS: -6.247569, 106.796178
Baca tanpa iklan