Transformasi Dunia Kerja Pariwisata, Model Fleksibel dan Digital Kian Dominan
Model kerja yang adaptif, termasuk sistem hybrid dan berbasis proyek, dinilai semakin relevan untuk menjawab dinamika kebutuhan wisatawan global.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Dunia kerja pariwisata mengalami transformasi besar akibat perubahan global, menuntut fleksibilitas, digitalisasi, dan keberlanjutan
- Akademisi University of Strathclyde, Glasgow, Skotlandia, Prof. Tom Baum sebut fleksibilitas tenaga kerja menjadi faktor kunci menjaga daya saing industri pariwisata di masa depan.
- Digitalisasi juga menjadi pendorong utama transformasi industri, mulai dari sistem reservasi, manajemen destinasi, hingga pengalaman wisata berbasis teknologi yang semakin terintegrasi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masa depan dunia kerja di sektor pariwisata tengah mengalami transformasi signifikan seiring perubahan global yang berlangsung cepat.
Industri pariwisata kini tidak lagi dapat bertumpu pada pola kerja konvensional, melainkan harus beradaptasi dengan tuntutan baru yang lebih fleksibel, digital, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Akademisi University of Strathclyde, Glasgow, Skotlandia, Prof. Tom Baum, Ph.D., D.Litt., mengatakan fleksibilitas tenaga kerja menjadi faktor kunci dalam menjaga daya saing industri pariwisata di masa depan.
Model kerja yang lebih adaptif, termasuk sistem hybrid dan berbasis proyek, dinilai semakin relevan untuk menjawab dinamika kebutuhan wisatawan global yang terus berubah.
Baca juga: Satu Tahun usai Serangan Teror, Pariwisata Pahalgam Kembali Menggeliat
“Selain itu, digitalisasi juga menjadi pendorong utama transformasi industri, mulai dari sistem reservasi, manajemen destinasi, hingga pengalaman wisata berbasis teknologi yang semakin terintegrasi,” ujarnya dalam The UBM Studium Generale (TUSG) Series 024 yang diselenggarakan Universitas Bunda Mulia dengan tema The Changing World of Tourism Work: Global Workforce Trends and the Path to Sustainable Employment di Jakarta, belum lama ini.
Prof. Baum juga menyoroti pentingnya praktik kerja berkelanjutan (sustainable employment) yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.
Ia menekankan perlunya keseimbangan antara profitabilitas dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan destinasi wisata.
Dalam pengembangan sumber daya manusia, ia menegaskan urgensi penguatan keterampilan (skills development) yang relevan dengan kebutuhan industri.
Hal ini mencakup kemampuan digital, komunikasi lintas budaya, pemecahan masalah, hingga adaptasi terhadap teknologi baru yang terus berkembang.
Menurutnya, keterampilan tersebut menjadi fondasi penting bagi tenaga kerja pariwisata di era global yang semakin kompetitif.
Prof. Baum juga menekankan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan dan dunia industri merupakan elemen penting dalam menciptakan tenaga kerja yang siap pakai.
Perguruan tinggi, kata dia, perlu aktif menjalin kemitraan dengan pelaku industri agar kurikulum yang diajarkan selaras dengan kebutuhan lapangan kerja.
Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki bekal teori, tetapi juga pengalaman praktis yang memadai.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Bunda Mulia, Yenli Megawati SE, MM mengatakan, The UBM Studium Generale merupakan langkah nyata universitas dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif dan dinamis.
“Mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan dalam memahami tren global serta adaptif terhadap perubahan industri,” ujarnya.
Baca tanpa iklan