Apakah Pasangan Harus Jadi Sahabat Terbaik? Ini Kata Psikolog
Banyak orang berharap pasangan hidup juga menjadi sahabat terbaik. Tapi benarkah itu sehat untuk hubungan?
Editor:
Suut Amdani
Namun, persahabatan yang mendasari hubungan mereka selalu membawa mereka kembali bersama.
“Selalu ada kekosongan saat kami berpisah,” kata Santiago yang tinggal di Orlando.
Mereka akhirnya sadar: “Wow, kita benar-benar melakukan segalanya bersama!”
Menurut Eli J. Finkel, psikolog sosial dan penulis buku The All-Or-Nothing Marriage: How the Best Marriages Work, konsep pasangan sebagai sahabat dekat sebenarnya baru berkembang belakangan.
Hingga pertengahan 1800-an, pernikahan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal — yang ia sebut “era pragmatis.”
Antara 1850 dan 1965, masuk “era cinta,” di mana pernikahan lebih menekankan kasih sayang dan kebersamaan.
Kini, kita berada di “era ekspresi diri,” di mana pernikahan bukan hanya soal cinta, tapi juga pertumbuhan pribadi.
“Pernikahan kini memikul semakin banyak tanggung jawab, termasuk kebutuhan sosial dan psikologis,” kata Dr. Finkel.
Bagaimana menetapkan ekspektasi yang realistis
Apakah baik atau buruk jika orang kini mengharapkan hubungan romantis memenuhi begitu banyak peran?
Itu tergantung apakah hubungan mampu melakukannya, kata Dr. Finkel yang juga co-host podcast Love Factually.
Ia senang mendengar ada orang yang ingin pasangannya menjadi sahabat terbaik.
Tapi, ia menyarankan untuk mempertimbangkan: apakah ada ekspektasi lain yang bisa dikurangi?
Misalnya, mengharapkan pasangan jadi rekan setara dalam mengurus rumah, berbagi pengasuhan anak, menjadi satu-satunya pasangan seksual, dan sekaligus sahabat terbaik adalah beban yang berat.
“Aku tidak ingin terdengar menggurui,” kata Dr. Finkel.
“Tapi setiap ekspektasi tambahan membawa peluang untuk kedekatan yang lebih dalam — sekaligus risiko hubungan akan goyah di bawah bebannya.”