Apakah Pasangan Harus Jadi Sahabat Terbaik? Ini Kata Psikolog
Banyak orang berharap pasangan hidup juga menjadi sahabat terbaik. Tapi benarkah itu sehat untuk hubungan?
Editor:
Suut Amdani
Ia menyarankan untuk mengurangi tekanan. Misalnya, bisakah kita mengandalkan teman lain untuk dukungan emosional?
Atau apakah kita tetap bisa bahagia meski hubungan intim tidak selalu bergairah?
Dr. Solomon menambahkan, persahabatan — bahkan persahabatan terbaik — bukan syarat mutlak untuk hubungan jangka panjang. Tapi, itu juga bisa membantu.
Menyukai pasangan, mengagumi mereka, menganggap mereka lucu, peduli pada cara pandang mereka, dan menikmati waktu bersama dapat meredam berbagai masalah lain dalam hubungan.
Namun, Dr. Solomon mengaku, meski ia menyayangi suaminya selama 26 tahun, ia tidak menganggapnya sahabat terbaik.
“Sahabat terbaikku bernama Ali, tinggal di Seattle,” ujarnya. “Dia sudah ada di posisi itu sejak kami berusia 10 tahun.”
Pada akhirnya, menjaga ikatan romantis yang erat mungkin bergantung pada pengelolaan ekspektasi dan membicarakannya secara terbuka, kata Adam Fisher, presiden divisi psikologi pasangan dan keluarga di American Psychological Association.
Dr. Fisher punya mentor yang mendefinisikan pernikahan sebagai persahabatan terbaik plus seks.
Meski ia menganggap itu salah satu pendekatan yang baik, menurutnya itu bukan satu-satunya.
“Pasangan membutuhkan semacam perekat — entah itu komitmen, nilai yang sama, seks, keuangan — sesuatu,” katanya. “Tapi itu tidak harus berupa persahabatan.”
Stephanie Lopez memilih keluar dari paradigma pasangan sekaligus sahabat terbaik.
“Saya pikir kita menempatkan begitu banyak ekspektasi dan tanggung jawab pada pasangan,” katanya. “Saya tidak di sini untuk menjadi segalanya bagi kamu.”
Artikel ini telah diterbitkan di The New York Times.
(c) 2025 The New York Times Company